Berlatih Tanggap Bencana, Ditantang Bantu Korban Gempa


MALANG – Tak seperti hari biasanya, 200 siswa SMA Sabilillah Malang mendadak berbondong-bondong keluar kelas. Sebagian dari mereka bahkan keluar kelas sambil berteriak gempa. Di ruang lain sebagian siswa juga ada yang bersembunyi di bawah kolong meja. Padahal mereka tengah mengikuti pelajaran dengan tenang sebelumnya.
Namun bukan gempa sesungguhnya yang terjadi di SMA Sabilillah Malang, melainkan simulasi tanggap bencana yang diselenggarakan atas kerja sama sekolah dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kota Malang dan STIKES Widya Cipta Husada Kepanjen. Kegiatan simulasi mulai digencarkan ke sekolah-sekolah pada periode ini yang ditargetkan 2 sekolah dan bulan depan harus 4 sekolah pada tingkat SMA/SMK/MA di Malang Raya.  
“Sebelumnya dalam skenario kita sedang proses pembelajaran seperti biasa, tiba-tiba ada gempa 7,8 SR. Semua kan panik, berhamburan, ada juga yang sembunyi di kolong meja, tapi disuruh tetap tenang,” ujar Ketua PMR SMA Sabilillah Malang Agung Prakoso kepada Malang Post kemarin.
Ia melanjutkan, gempa ternyata tidak berhenti, malah lebih besar dari sebelumnya.
“Jadi kami harus mencari perlindungan di tempat yang lebih luas. Di luar kelas, ternyata sudah banyak tim volunteer yang berdarah-darah,” kata dia.
Diceritakan Agung, mereka meringis kesakitan. Siswa melihat banyak korban dengan keluhan yang variatif. Sehingga siswa SMA Islam Sabilillah Malang harus turut membantu para korban. Mereka dituntut terampil dan sesuai dengan prosedur simulasi saat melakukan evakuasi korban.
“Kami kaget, kan dikira pas simulasi, kami yang jadi korban, ternyata sudah ada dari tim simulasi yang berperan sebagai korban dengan banyak darah. Selanjutnya kami diperkenalkan bagaimana penanganan terhadap banyak korban dan kondisinya. Selama ini kami baru diajari penanganan satu korban, sehingga tentu jadi tambah ilmu,” ungkapnya.
Siswa tampak antusias bergerombol mendengarkan pengarahan dari tim simulasi. Terlebih simulasi tanggap bencana ini baru pertama kali dilakukan. Sebanyak 200 siswa yang mengikuti simulasi ini terdiri dari kelas X-XI selama kurang lebih lima jam. Sebelumnya selama satu bulan terakhir, tim PMR sekolah sebagai perwakilan siswa sudah diedukasi dalam program pengabdian masyarakat kesehatan remaja dengan kegiatan pembelajaran bencana dan pengobatan gratis. Saat simulasi, siswa juga dibekali dengan pengenalan obat medis dan peralatan di sekitar yang mampu digunakan untuk pertolongan pertama.
“Seperti tadi ada kayu, kerudung, itu bisa digunakan sebagai alat untuk penanganan pertama. Simulasi ini utamanya dapat melindungi diri terlebih dulu. Edukasi gempa diutamakan, mengingat sekolah yang berlokasi di tengah kota dengan gedung bertingkat,” timpal Fatkhul Aisyah, Tim UKS SMA Sabilillah Malang.
Sementara itu, Waka Kesiswaan SMA Sabilillah Malang, Agus Budiono mengaku siswa antusias dengan simulasi tanggap bencana ini. Seperti yang diinformasikan BPBD kota Malang bahwa dari bulan Januari-Februari ini terdata sebanyak 46 bencana. Tujuan simulasi ini meliputi penyebaran informasi kepada siswa untuk tanggap dan waspada terhadap bencana serta mampu menginspirasi sekolah lainnya untuk melakukan kegiatan yang sama. “Siswa kita akan dapat bekal sewaktu-waktu terjadi bencana, paling tidak siswa dapat menginformasikan kepada keluarganya cara penanganan sehingga tidak panik karena sudah mendapat dasarnya. Hal ini juga bertujuan untuk meminimalisir korban bencana, “ tuturnya. (mg3/sir/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :