APTISI Tolak Kampus Asing Masuk Indonesia


MALANG – Izin Perguruan Tinggi Asing ke Indonesia oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) pada pertengahan tahun 2018 ini mendapat respon dari Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI). Respon tersebut berupa penolakan APTISI terhadap wacana kebijakan kampus asing masuk ke Indonesia.
Hal tersebut dikatakan oleh Ketua APTISI wilayah VII Jatim, Prof. Dr. Suko Wiyono S.H M.Hum saat menghadiri Rapat Pengurus Pusat Pleno (RPPP) ke-4 APTISI yang berlangsung, 8-10 Februari, di Hotel Aryaduta Palembang. “Masuknya kampus asing ke Indonesia membuat kita bisa dilindas begitu saja. Karena hal tersebut bisa mengancam PT yang ada di Indonesia,” ujar Suko Wiyono kepada Malang Post.
Rektor Universitas Wisnuwardhana Malang ini menjelaskan, kampus asing yang masuk ke Indonesia harus selektif, yang dimaksudnya bukan perguruan tinggi yang abal-abal. Selain itu, juga harus mau alih atau cangkok teknologi dengan PTS yang akan digandeng. Sehingga akan saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.
Ia memberikan contoh, seperti banyaknya perusahaan mobil yang hanya masuk ke Indonesia tanpa membangun pabrik. Bahkan masuknya teknologi tersebut diungkapnya sudah berpuluh-puluh tahun tanpa membuka pabriknya di Indonesia.
“Kita jangan sampai seperti itu. Karena akan mengambil keuntungan bagi mereka,” paparnya.
Bahkan Suko yakin, akan sedikit orang Indonesia yang telah sekolah di luar negeri akan kembali ke Indonesia. Karena, lanjutnya, mahasiswa dari Indonesia yang belajar ke luar negeri mencari kultur yang sangat berbeda.
“Misal seperti Ohio, New York dan California University yang jelas memiliki kultur yang berbeda dengan kita. Di sana, suasana kampus sangat sepi, tidak ada suara karena mereka fokus belajar. Bahkan kita lewat saat ada pelajaran tidak bakal dilihat. Berbeda dengan kultur di Indonesia,” bebernya.
 “Kita mau lihat persyaratan dahulu. Tentunya ada persyaratan yang tidak mudah. Kita aja membuka kelas jauh tidak boleh tapi mereka boleh. Kita tidak setuju selama tidak jelas, kalau bisa kita tolak,” pungkasnya. (eri/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...