magista scarpe da calcio UM dan UB Genjot Jumlah Paten


UM dan UB Genjot Jumlah Paten


MALANG - Lamanya waktu pengajuan paten menjadi salah satu alasan dosen enggan memrosesnya. Seperti di UM, yang jumlah patennya masih minim.
Diungkapkan Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Bidang Sains Teknolodi, Industri dan HAKI Universitas Negeri Malang (P3STIHKI UM) Dr. Muhammad Alfian Mizar, M.P, mengatakan betapa pentingnya HAKI di dalam daya saing. Terutama untuk hasil penelitian yang memiliki daya saing. Karena hal itu dapat meminimalisir adanya pemalsuan dan menjadikan hasil penelitian atau inovasi produk mendahului competitor.
“Bagi dosen dan mahasiswa, sudah sering kita adakan sosialisasi agar mematenkan kekayaan intelektual seperti sertifikasi hak cipta, merk ataupun hak paten. Namun kita akui masih belum maksimal,” ujar Alfian kepada Malang Post.
Padahal, diungkapnya, untuk mematenkan hasil penelitian maupun produk yang diciptakan akan memberikan keuntungan tidak saja bagi universitas. Tetapi juga keuntungan ekonomi bagi peneliti.
“Keuntungan bagi lembaga misalnya adalah peningkatan akreditasi. Sedang bagi mereka dari hasil inovasi produk mereka bisa bekerja sama dengan industri atau komersialisasi,” terangnya.
Alfian sendiri telah merasakan dari mematenkan empat hasil penelitan yang telah ia ciptakan. Beberapa produk yang telah paten adalah mesin pengupas wijen pada tahun 2016, mesin pengupas kulit ari kacang, kincir angin kerja ganda untuk pengairan tambak dan kapal cepat untuk penebar pakan ikan yang dipatenkannya pada tahun 2017.
Ia sendiri juga butuh waktu selama tiga tahun agar alat yang diciptakan lolos paten. Hal itu yang membuat mahasiswa dan dosen banyak yang tidak mematenkan penelitiannya. Dari pengalaman tersebut, kemudian UM menggunakan metode mediasi paten untuk mempercepat proses. Dimana metode tersebut dengan mengundang beberapa pemeriksa ke UM dan langsung dipertemukan dengan lima inovator secara bersamaan.
Karena minimnya hak paten dan hak cipta yang dihasilkan UM pihaknya akan menginventarisasi karya-karya mahasiswa dan dosen selama tiga tahun ke belakang. Pihaknya juga berharap dengan untuk kedepannya persyaratan untuk lulus tidak hanya membuat jurnal, tetapi juga menyiapkan hak cipta dan paten. “Untuk meningkatkan antusias tersebut, UM telah memfasilitasi mulai dari pendaftaran hingga pemerikasaan dengan gratis. Begitu keluar hak paten mereka juga akan dapat renumerasi satu paten Rp 8 juta.
Sementara itu, Ketua Sentra Kekayaan Intelektual Universitas Brawijaya (KI UB) Dr. Ir. Purwadi, M.S mengatakan, jika UB telah menargetkan setiap tahunnya harus ada 100 hak paten. Karena hal itu ditujukan agar dosen dan mahasiswa lebih produktif lagi dalam berinovasi dalam melaksanakan penelitian atau produk.
“Setiap tahun UB memiliki target untuk paten yang telah tersertifikasi. Di mana setiap satu semesternya sebanyak 50 hak paten. Hal itu nantinya juga akan mempengaruhi akreditasi fakultas dan universitas,” beber Purwadi.
Ia juga menambahkan, dengan target yang setiap tahunnya rata-rata dapat dicapai. UB menjadi kampus yang menempati daftar paten paling banyak di Indonesia. Untuk Selain itu, hampir separuh produk yang diciptakan oleh dosen juga telah dijual.
“Tahun ini, kami akan lebih selektif lagi untuk paten untuk didaftarkan. Terutama untuk produk yang bisa dinikmati oleh masyarakat, sehingga bisa menguntungkan secara ekonomi. Baik baik dosen, mahasiswa dan lembaga,” pungkasnya. (eri/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang Goto Top