Siswa Jalur Wilayah Diberi Perlakuan Khusus

MALANG - Sekolah favorit di Kota Malang memberlakukan program khusus untuk siswa yang diterima di jalur wilayah pada PPDB tahun ini. Sebab, input siswa di jalur ini jauh berbeda dari siswa jalur reguler. Contohnya di SMPN 5 Malang, nilai terendah siswa yang diterima di jalur reguler 90,57. Sedangkan di jalur wilayah, nilai terendah yang diterima 54.05. Di SMPN 3 Malang, siswa yang masuk dari jalur reguler memiliki nilai terendah sebesar 91.20. Sedangkan untuk jalur wilayah, tercatat dengan nilai terendah sebesar 58.28.
 
Kepala SMPN 5 Malang, Drs. Burhanuddin, M.Pd terpaksa memberikan tindakan khusus kepada siswa dari jalur wilayah. Dengan berada di satu kelas, mereka mendapatkan guru dan wali kelas khusus yang dipilih berdasarkan tingkat kesabaran dan ketelatenan yang lebih tinggi. Selain itu, posisi kelas untuk mereka ditempatkan di ruangan yang mudah untuk pemantauan dan kontrol oleh pihak sekolah.
 
“Karena rentang nilai diantara siswa di jalur penerimaan tersebut terlampau tinggi, jadi mau tidak mau kami memberikan perhatian lebih kepada mereka agar dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Sedangkan untuk tahun lalu tidak ada tindakan khusus,” ujarnya.
 
Burhan menuturkan, untuk sementara ini pihaknya masih akan berupaya dalam tiga langkah alternatif tersebut. Namun tidak menutup kemungkinan, siswa akan diberikan jam tambahan pelajaran untuk mengejar ketertinggalan dalam pemahaman materi.
 
“Misalnya bila dalam satu minggu terdapat tiga jam pelajaran tersebut, maka dengan terpaksa akan kami tambah menjadi empat jam,” imbuhnya.
 
Lain halnya di SMPN 3 Malang. Kepala SMPN 3 Malang, Tutut Sri Wahyuni memberlakukan seleksi alam dengan model sistem kredit semester (SKS). 
Dari SKS, siswa dapat menuntaskan pendidikan di SMPN 3 Malang dalam jangka empat semester saja atau dua tahun. Namun untuk dapat masuk ke kelas tersebut, siswa harus melalui berbagai penilaian dari hasil raport SD kelas 5 dan 6, nilai ujian sekolah, tes TPA dan hasil psikotes yang diadakan oleh sekolah.
 
”Kami tidak membatasi jumlah siswanya dalam kelas SKS tersebut. Selama siswa masuk dalam kualifikasi, dia bisa masuk. Ini untuk menfasilitasi siswa dengan kecepatan belajar yang lebih diantara teman yang lainnya,” terangnya.
 
Namun bila seorang siswa tidak masuk dalam kelas SKS di penilaian awal namun memiliki hasil evaluasi yang baik di semester pertama, maka ada kemungkinan siswa tersebut dapat masuk ke kelas SKS. Dengan jangka waktu sekolah yang lebih pendek, tidak berarti siswa menempuh jam pelajaran yang lebih lama setiap harinya.
 
”Siswa pulang sekolah di jam yang sama dengan yang lain, hanya saja materinya yang berbeda. Misalnya untuk siswa kelas SKS, dapat menyelesaikan empat Kompetensi Dasar dalam satu jam pelajarana, sedangkan untuk siswa reguler, satu jam pelajaran tersebut hanya cukup untuk dua kompetensi dasar.
 
Dengan adanya SKS tersebut, maka dengan sendirinya akan terseleksi berdasarkan kemampuan akademis siswanya. Selain itu, bila tahun ini SMPN 3 Malang tidak memberikan perlakuan khusus, namun tahun lalu, sekolah memberikan pendampingan dengan penambahan jam belajar bagi siswa dari jalur wilayah, yang artinya, jam belajar mereka lebih lama dibandingkan siswa yang lain.
 
”Tapi untuk tahun ini menginjak di kelas yang lebih tinggi, mereka sudah berbaur karena pendampingan kemarin termasuk berhasil,” imbuhnya. (mg19/oci)
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :