magista scarpe da calcio SMPN 1 Tak Bedakan Siswa Jalur Wilayah


SMPN 1 Tak Bedakan Siswa Jalur Wilayah

MALANG – Meski terdapat perbedaan pada batas nilai terendah yang diterima siswa untuk jalur reguler dan jalur wilayah, namun SMPN 1 Malang tidak memberlakukan tindakan khusus kepada siswa. Untuk siswa kelas 10, pembagian kelas dilakukan secara merata, sehingga siswa dengan nilai akhir rendah pada PPDB kemarin, berada di kelas yang sama dengan siswa bernilai tinggi dengan harapan memacu semangat berkompetisi siswa.
”Tahun ini kami tidak ada kelas unggulan, jadi siswa merata di setiap kelas. Dengan begitu, siswa yang nilainya di ujian nasional kemarin tidak tinggi, bisa termotivasi ketika berada di lingkungan yang sama dengan temannya yang bisa dapat nilai tinggi,” ujar Kepala SMPN 1 Malang, Dra Hj Lilik Ermawati MPd.
Selain itu, hanya sedikit siswa yang memiliki keterpautan nilai yang jauh dengan rata-rata nilai siswa yang diterima. Nilai terendah yang diterima melalui jalur wilayah di sekolah tersebut tercatat 58.28 dengan nilai terendah di jalur reguler yakni 91.20. Namun, di atas angka terendah jalur wilayah tersebut, hanya terdapat empat siswa dengan nilai 67.10, 69.43, 69.78 dan 69.8 dan sisanya berada di rentang yang lebih tinggi.  
Lilik mengatakan, bila nantinya terdapat siswa yang mengalami kesulitan mengikuti proses pembelajaran di sekolah, maka guru siap memberikan tambahan pelajaran di luar jam pelajaran di sekolah. Karena menurutnya, yang terpenting adalah kemauan siswa.
”Kalau siswa mau, silakan datang ke ruang guru di saat istirahat atau pulang sekolah untuk belajar kembali materi yang belum dipahami siswa di kelas. Guru kami tentu akan menyambut baik. Bahkan beberapa kali saya lihat, siswa ada yang belajar dengan gurunya sampai maghrib di sekolah,” imbuhnya.
Dengan mencampur siswa yang memiliki perbedaan nilai akhir pada PPDB lalu, diharapkan siswa yang pada SD dulu masih terganjal kemalasan mengejar nilai tinggi, dapat terlecut semangatnya melihat teman yang lain. Terlebih bila nilai ujian nasional lalu tidak dapat merepresentasikan kemampuan akademik siswa secara keseluruhan.
”Misalnya waktu ujian nasional kemarin ternyata siswa sedang sakit dan nilainya jadi turun, padahal sebenarnya kemampuannya baik. Yang terpenting semangat anak-anak,” terangnya. (mg19/oci)
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang Goto Top