165 Cerita Rakyat Jadi Buku Sekolah

 
KEMENTERIAN Pendidikan dan Kebudayaan menyadur sebanyak 165 buku cerita rakyat. Buku saduran itu akan digunakan sebagai buku pendamping dari buku teks yang dipergunakan di sekolah, dan masyarakat.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengungkapkan buku cerita rakyat dapat menjadi sarana Penguatan Pendidikan Karakter. Dengan membaca buku cerita rakyat, para siswa dapat mengambil pesan yang baik dari buku tersebut.
“Saya sangat yakin melalui buku cerita dan karya-karya sastra, pendidikan karakter yang diidamkan oleh seluruh masyarakat bisa tercapai. Salah satu pendekatan itu adalah dengan membaca karya sastra yang mengandung pesan yang baik,” ujar Mendikbud Muhadjir saat Pembukaan Musyawarah Sastrawan Nasional Indonesia (MUNSI) II, beberapa waktu lalu.
Menteri Muhadjir mengungkapkan, buku itu telah melalui pemeriksaan kualitas dari Tim Penilaian Pusat Perbukuan sehingga layak diberikan kepada masyarakat dan peserta didik.
Saat pendistribusian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan bekerjasama dengan Kementerian Sekretariat Negara. “Sekretariat Negara akan menerbitkan 28 judul buku dari 165 buku, dan akan digandakan sebanyak 30.000 eksemplar, untuk dibagikan pada acara kunjungan kerja presiden ke seluruh tanah air dan safari rohani,” ujar Menteri Muhadjir.
Msyawarah Sastrawan Indonesia (MUNSI) II adalah perhelatan yang menghimpun 180 orang sastrawan berprestasi dari seluruh Indonesia, dari tanggal 18 s.d. 20 Juli 2017. Mereka berasal dari sastrawan hasil seleksi karya, sastrawan penyumbang puisi dalam Antologi Puisi Munsi 2016, dan undangan, pelaksana program Sastrawan Berkarya di Daerah 3T; pemenang penghargaan Badan Bahasa; dan pegiat sastra. (kmd/oci)
 
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :