Kolintang Seharga Puluhan Juta Mangkrak di Sekolah


MALANG – Pernah menjadi andalan, dua tahun terakhir ekskul kolintang di SDN Blimbing 3 dihentikan. Hal ini ditengarai guru yang kurang inovatif dan pagelaran acara yang minim. Sehingga siswa tidak bisa mengeksplor kemampuannya memainkan alat musik tersebut.
Kulintang sendiri dikenal sebagai salah satu alat seni tradisional yang terdiri dari barisan gong kecil dan dapat dibunyikan melalui pukulan. Alat musik yang bentuknya datar ini terus mengalami perkembangan bahkan harganya juga mencapai jutaan rupiah.
“Sebenarnya banyak peminatnya dulu, sampai kita beli alatnya sekitar Rp 20 juta. Tapi karena guru dirasa kurang inovatif, sehingga tidak ada hasilnya,” ujar Kepala SDN Blimbing 3 Suryatiningsih SPd MM kepada Malang Post, kemarin.
Jika bicara minat seni, menurutnya banyak yang senang. Ekskul ini sudah berjalan sejak tujuh tahun lamanya. Namun siswa jarang tereksplor jadi kelihatan tidak ada prestasinya. Hal ini terlihat dari siswa yang jarang tampil. “Gurunya saya berhentikan, sebelumnya juga dievaluasi tapi tidak ada perubahan. Guru kan harus punya inovasi agar siswa dapat tergerak aktif dalam setiap pagelaran,” bebernya.
Hal ini juga disebabkan oleh faktor minimnya pagelaran yang memunculkan atraksi kulintang. Selain itu, dalam pertunjukannya kulintang membutuhkan tempat yang luas. Sehingga pertunjukan kulintang semakin jarang di kota Malang. Suryatiningsih bahkan ingin menggerakkan guru untuk memainkan kulintang di lingkungan sekolah untuk memotivasi siswa kembali menyenangi alat musik tersebut.
“Saya ingin guru main kulintang bersama waktu pentas seni, ada arah ke sana. Tapi karena butuh indoor yang luas jadi terbatas pada itu. Kulintang kan kalau di luar bunyinya terurai tidak jelas,” tandasnya
Dia berharap, Dinas Pendidikan kota Malang mulai memunculkan kembali festival seni maupun pagelaran yang memunculkan kulintang.
“Sayang sekali sampe mangkrak alatnya. Ya paling tidak minimal satu tahun sekali pagelaran bersama di kota Malang, andalan kita kan itu,” pungkasnya.   
Sementara itu, menanggapi pagelaran alat musik tradisional yang semakin jarang, Kepala Bidang Pembinaan PTK Dindik, Dra Sri Sutrisnawati MKPd mengaku hal tersebut adalah tantangan untuk seluruh pihak. Dia tegas menjelaskan kegiatan seni baik wayang maupun alat seni kulintang harus terus digali. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :