Tak Ada Alasan, Harus Publikasi Jurnal Internasional


MALANG – Direktur Program Pasca Sarjana ITN Malang, Prof. Dr. Eng. Ir. Abraham Lomi, MSEE mendukung penuh peraturan tentang kewajiban publikasi internasional bagi guru besar. “Saya pribadi mendukung kebijakan tersebut, karena untuk masuk dalam persaingan kelas dunia memang perlu diterapkan. Terutama bagi pendidikan di Indonesia agar tidak tertinggal dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand,” ujarnya kepada Malang Post, Jumat (23/2) .
Ia menjelaskan, publikasi internasional yang menjadi kewajiban guru besar tersebut layaknya dianggap sebagai motivasi. Manfaatnya tidak hanya dirasakan yang bersangkutan, tapi juga mahasiswa, perguruan tinggi hingga masyarakat. “Publikasi internasional sebenarnya sudah menjadi syarat sebagai guru besar sejak tahun 2000an. Jadi tidak ada alasan sama sekali bagi guru besar untuk tidak memenuhi kewajiban meningkatkan kualitas dan kuantitas publikasi ilmiah yang diterbitkan jurnal internasional, tentunya terindeks Scopus,” tegasnya.
Mantan Rektor ITN ini mengatakan, publikasi internasional, penerbitan buku, hingga paten bukanlah menjadi persoalan bagi seorang guru besar. Dengan melaksanakan tersebut, Perguruan Tinggi (PT) Indonesia yang peringkat awalnya berada di bawah Thailand berhasil naik di atasnya.
Selain itu, dengan tunjangan yang didapat guru besar harus ada tanggung jawab untuk dipenuhi. “Tunjangan yang didapat guru besar di Indonesia sudah sangat mencukupi, sehingga tidak ada alasan untuk tidak memenuhi Permenristek no 20/2017. Baik untuk alasan teknis maupun non teknis,” tegasnya.
Ia menguraikan, memang kesempatan publikasi ilmiah banyak didapat oleh guru besar di PTN dari pada di PTS. Itu dikarenakan PTN lebih banyak prodi S2 dan S3 sehingga para guru besar memiliki kesempatan untuk menggandeng mahasiswa menerbitkan jurnal internasional. Sedang bagi guru besar yang berada di PTS, tidak semua memiliki prodi S2 dan S3, namun masih ada banyak cara untuk publikasi internasional.
“Bagi guru besar di PTS yang tidak memiliki prodi S3, mereka bisa menggunakan program hibah Dikti untuk penelitan dan pengabdian dosen. Karena dari program tersebut hasilnya harus masuk dalam jurnal internasional, di mana untuk satu prosposal penelitian yang lolos akan mendapatkan dana sebesar Rp 80 juta- Rp 200 juta. Malah ada yang mencapai Rp 1 milliar, dan itu harus dimanfaatkan dengan baik,” ungkap dosen yang sejak tahun 2016 memanfaatkan dengan baik program tersebut.

Berita Terkait

Berita Lainnya :