Geliat Wirausaha SMK

MALANG – Dalam targetnya untuk memajukan pendidikan Vokasi tahun 2018, salah satu yang menjadi program pemerintah yakni pemberian keterampilan wirausaha bagi siswa SMK. Apalagi, data BPS tahun 2016 menyebutkan, penyumbang pengangguran terbesar berasal dari lulusan SMK. 
Pernyataan tersebut diamini oleh Waka Humas sekaligus guru pengampu mata pelajaran Kewirausahaan SMKN 10 Malang, Darmadi, S.Pd. Selain memiliki kewajiban menyiapkan siswa dari segi materi agar dapat mendapat tempat di dunia industri, yang tak kalah penting, sekolah harus membekali siswa dengan keterampilan berwirausaha.
“Dari banyaknya lulusan sekolah, tidak mungkin semuanya tertampung di industri. Untuk menghindari pengangguran, lulusan harus mau dan bisa berwirausaha,” ujar Darmadi.
Di SMKN 10 Malang, pembelajaran kewirausahaan diterapkan dengan memaksa siswa kelas 12 secara individu untuk membuat rancangan kewirausahaan dalam bentuk proposal. Usaha yang diajukan bisa saja masih berupa konsep usaha yang akan dikembangkan, atau usaha yang sekarang telah dirintis oleh siswa, maupun orang tua.
”Dari proposal tersebut harus tercantum proses perencanaan usaha, produk, permodalan, dan lainnya, kemudian dipresentasikan. Siswa diuji bagaimana mengatasi permasalahan. Yang sudah jalan usahanya, pasti bisa menjawab,” terangnya.
Tantangan yang paling besar bagi siswa, menurut Darmadi, yakni mewujudkan proposal tersebut. Dengan adanya presentasi dan pengujian dari guru, siswa harus bisa menjelaskan berbagai penyelesaian dari permasalah yang 
”Prinsipnya, modal sedikit tapi bisa direalisasikan. Siswa harus berfikir kreatif, jangan gunakan modal besar namun hanya angan-angan,” imbuhnya.
Dari kegiatan tersebut, bentuk usaha siswa biasanya tidak linear dengan jurusan yang diambil di sekolah. Beberapa siswa menuliskan konsep untuk meneruskan usaha milik orang tua dan siswa memiliki tugas membantu. Menurut Darmadi, ini sudah baik karena siswa telah memiliki konsep dan rancangan bagaimana usaha berjalan. Beberapa diantaranya ada yang memiliki usaha sablon dan hasil karya, namun ada juga usaha jasa fotografi, yang kebetulan sesuai dengan minta dan bakat siswa.
”Saya tanya anak ini, darimana dia dapat modal? Padahal peralatannya tergolong mahal. Ternyata dia menyewa, kreatif juga,” imbuhnya.
Setelah lulus dari mata pelajaran ini, siswa akan diberikan sertifikat lulus kewirausahaan. Yang artinya, siswa telah memenuhi standart kompetensi dari segi proposal, kelayakan produk untuk dilempar ke pasaran, aspek usahanya memenuhi syarat dan tempat pelaksanaan usaha. 
Sementara itu, aplikasi kewirausahaan di SMKN 4 Malang diterapkan oleh tujuh kelompok masing-masing jurusan, dengan masing-masing kelompok beranggotakan lima siswa yang dianggap memiliki ketrampilan dan pengetahuan lebih. Dengan pendampingan guru, satu kelompok aplikasi diberikan modal sebesar Rp 15 juta yang harus dipertanggung jawabkan melalui laporan keuangan.
”Dari modal Rp 15 juta itu, ada yang sudah kembali Rp 40 juta dengan berbagai usaha, misalnya sablon, pembuatan software atau company profile. Minimal sudah balik modal dua kali lipatnya,” ujar Kepala SMKN 4 Malang Drs. H. Wadib Su'udi, M.M.
Dengan aplikasi kewirausahaan ini, siswa terjun langsung mengelola usaha dan pelaporan aliran keuangannya. Waktu pengerjaan usaha tersebut diserahkan sepenuhnya kepada anak, dengan catatan tidak boleh mengganggu waktu belajar di sekolah.
Wadib menceritakan, siswa lulusan SMKN 4 Malang telah banyak yang memiliki usaha sendiri. Bahkan yang terbaru, seorang siswa memiliki usaha sablon dengan pendapatan Rp 25 juta per hari.
”Yang kemarin ada yang membuat sebuah aplikasi yang dijual dengan harga Rp 12,5 juta. Bukti bahwa anak-anak tak hanya siap kerja, tapi juga membuka usaha sendiri,”katanya. (mg19/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :