Mengejutkan! Prof Abdul Haris Rektor UIN Maliki

MALANG - Proses panjang bursa pemilihan rektor (pilrek) UIN Maliki berakhir mengejutkan. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin resmi melantik Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag, Guru Besar IAIN Sunan Ampel Surabaya sebagai rektor menggantikan Prof Dr Mudjia Raharjo, kemarin. Padahal, sehari sebelumnya, Mudjia mengungkapkan optimismenya bahwa ia yang dipercaya untuk kembali memimpin UIN Maliki Malang. Fakta ini membuat sejumlah pihak kaget, termasuk Kepala Humas UIN Maliki Sutaman yang kemarin ikut ke Jakarta. Sutaman mengaku baru tahu jelang pelantikan. “Ya baru tahu sekarang ini,” ungkapnya singkat melalui pesan WhatsApp, kemarin. Sayangnya, hingga malam kemarin, rektor terpilih enggan berkomentar. Ketika dihubungi Malang Post, ada nada sambung tapi tidak diangkat. Begitupula Prof. Mudjia yang tidak membalas telepon. Dari tiga bakal calon rektor, sosok Abdul Haris sebelumnya sama sekali tidak diunggulkan dalam bursa Pilrek UIN. Justru nama Prof Khusnuridlo, bakal calon dari IAIN Jember yang digadang menjadi kuda hitam. Disamping itu, rektor incumbent Mudjia justru dipandang masih memiliki kans kuat untuk kembali memimpin. Hanya saja selama proses pilrek berlangsung, sempat terjadi beberapa permasalahan yang menyeret nama Khusnuridlo.

 Di antaranya, sempat terjadi pembatalan nama Khusnuridlo sebagai peserta pilrek karena SK yang dipakai untuk mendaftar dianggap tidak sah. Beberapa pihak menduga, ada yang sengaja menjegal Khusnuridlo karena berpeluang besar menggantikan Mudjia. Sementara Ketua Senat UIN Maliki, Prof. Dr. Imam Suprayogo bersyukur sebab pilrek yang sempat molor hampir tiga bulan telah usai. Jadwal pilrek seharusnya diagendakan selesai 30 April. Sebab, masa habis jabatan rektor, sampai 2 Mei. “Siapapun rektornya, yang pasti harus bisa membawa UIN Maliki menjadi lebih baik lagi,” harapnya. Prof. Dr. Abdul Haris Al-Muhasibi, M.Ag lulus Pesantren di MA Wahid Hasyim Tebu Ireng Jombang pada 1982. Sebelum memutuskan menjadi akademisi, Haris kala itu ingin mencoba melanjutkan ke Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI). Ia pernah mengajar di IAIN Sunan Ampel Malang, Unisma dan Unmer. Selama mengajar, ia terus bersekolah hingga akhirnya menyelesaikan program doktor. Sebuah pencapaian tertinggi seorang akademisi berhasil ia wujudkan. Ia mendapatkan gelar guru besar di tahun 2007, setahun setelah menyelesaikan program doktoral di UIN Syarief Hidayatullah Jakarta di tahun 2006. Harris mengambil jurusan linier untuk ketiga gelarnya tersebut, yakni Ilmu Tarbiyah dan Agama Islam. Terpisah, Menag melalui rilis resmi berpesan, pemerintah menitipkan kepercayaan dan harapan besar untuk memimpin PT Agama Islam agar tumbuh menjadi lembaga pendidikan tinggi unggulan di tanah air. (sin/oci/han)

Berita Lainnya :