Politeknik Harus Terapkan Revitalisasi Kurikulum 3-2-1


MALANG – Revitalisasi politeknik merupakan tuntutan persaingan dunia kerja yang membuat perguruan tinggi (PT) vokasi negeri dan swasta untuk meningkatkan SDM. Tuntutan oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) tersebut harus diterapkan oleh PTN/S vokasi.
Hal itu ditegaskan oleh Koordinator Kopertis Wilayah VII Jawa Timur Prof. Dr. Ir. Suprapto, DEA dengan mengatakan seluruh PT vokasi, khusunya wilayah Jawa Timur harus mengarah kepada Kebijakan tersebut. “Semua PT vokasi harus mengarah pada revitalisasi, baik pada kurikulum 3-2-1, penguatan kapabilitas dan kapasitas dosen hingga teaching factory,” ujar Suprapto kepada Malang Post.
Ia berharap, pentingnya revitalisasi PT vokasi segera dilakukan secara bertahap. Dengan begitu, PT vokasi harus segera melakukan penataan secara bertahap agar terlaksana dengan maksimal. Di mana untuk Jawa Timur saat ini ada 23 PT vokasi yang diharapnya melakukan penataan secara bertahap.
Hal tersebut, tentunya tidak serta merta diterapkan di setiap Politeknik, karena untuk melakukan revitalisasi kurikulum secara tidak langsung akan menghilangkan keistimewaan politeknik tersebut. Begitu juga dengan dua PTS/N vokasi di Malang yang tidak memaksakan revitalisasi polteknik dari Menristek Dikti karena beberapa alasan.
Direktur Politeknik Negeri Malang (Polinema) Drs Awan Setiawan M.M mengatakan revitalisasi politeknik selama ini hanya diterapkan di 12 PT vokasi dari 43 yang dilakukan. “Namanya revitalisasi adalah pembaruan, menurut kami adalah pembaruan perelatan. Tapi nyatanya bukan seperti itu. Tetapi pembaruan mulai dari kompetensi dosen, mahasiswa hingga kurikulum,” ujar Awan kepada Malang Post.
Ia menjelaskan, untuk kurikulum 3-2-1 seperti wacana yang dilemparkan oleh Kemenristek Dikti tidak bisa diterapkan di Polinema. Hal itu karenakan dalam satu angkatan saja mahasiswa yang diterima sekitar 3.000 mahasiswa. Dengan begitu, pihaknya harus memiliki kerja sama dengan ratusan perusahaan atau industri.
“Tidak mungkin dengan banyaknya masiswa sebanyak itu menerapkan kurikulum 3-2-1. tiga semester di kampus, dua di industri dan satu saat ujian kembali ke kampus menyelesaikan tugas akhir,” terangnya.
Hal itu, ia melanjutkan, dikarenakan Polinema sejak 10 tahun lalu telah menerapkan kurikulum 5-1 untuk D3 dan 7-1 untuk D4. Di mana lebih dengan perbandingan semester terbanyak di kampus dengan sisanya di industri. Dengan begitu, ia mengatakan harus menyesuaikan indikator tersebut.
Hal senada juga diungkapkan oleh Direktur Politeknik Kota Malang (Poltekom) Dr. Isnandar M.T juga menjelaskan jika pihaknya tidak bisa menerapkan kurikulum 3-21. Sehingga ia menawar dengan kurikulum yang telah diterapkan dengan konsep 2-1-2-1. Kurikulum itu diterapkannya karena banyaknya mahasiswa yang telah diterima kerja di smeseter akhir. (eri/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...