Universitas Islam Malang , Gelar Lomba MTQ, Diikuti 242 Peserta


MALANG – Universitas Islam Malang (Unisma) kembali menggelar lomba Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat SLTA Jawa Timur. Lomba membaca Alquran tersebut merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-37 Unisma yang diharapkan untuk membumikan dan menumbuhkan rasa cinta kepada Alquran.
Rektor Universitas Islam Malang (Unisma) Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si mengatakan kegiatan lomba yang digelar selama dua hari tersebut memiliki banyak manfaat, baik untuk Unisma maupun peserta yang terdiri dari berbagai sekolah di Jawa Timur. Ia mengungkapkan, beberapa manfaat yang bisa didapat oleh peserta diantaranya mengembangkan kemampuan hingga meningkatkan bakat untuk berlomba-lomba meraih prestasi.
“Lomba MTQ ini juga bertujuan untuk mempererat tali silaturahim antar sekolah dengan Unisma. Selain itu, para peserta diharapkan bisa bertukar pengalaman antar penghafal Alquran,” ujar Maskuri kepada Malang Post.
Ia menjelaskan lebih lanjut, dengan adanya kegiatan MTQ Unisma menginginkan para generasi muda cinta kepada Alquran. Karena salah satu pegangan dalam menuntut ilmu adalah Alquran. Tidak hanya itu, bagi peserta yang mengikuti perlombaan, mereka akan mendapatkan potongan biaya saat masuk Unisma.
“Bagi peserta yang berhasil meraih juara, Unisma juga akan memberikan beasiswa. Hal itu kami lakukan sebagai bentuk apresiasi dari prestasi yang mereka torehkan,” terangnya.
Sementara itu, Ketua Panitia MTQ Aliansyah mengatakan, dalam perlombaan yang dilaksanakan mulai 24-25 Februari kemarin diikuti sebanyak 242 peserta. Di mana pada tahun ini terbagi menjadi enam jenis lomba, yang diantaranya tartil dengan diikuti sebanyak 50 peserta, tilawah diikuti 35 peserta, tahfidz dengan 40 peserta, kaligrafi sebanyak 25 peserta, pidato bahasa arab dengan 38 peserta dan pidato bahasa inggris diikuti 43 peserta.
“Pada perlombaan yang dipercayakan kepada UKM Jamiyyatul Qurra Wal Huffadz (JQH) kali ini lebih banyak jenis lombanya dari tahun kemarin. Sehingga animo perserta juga bertambah, itu terbukti dari tempat yang disediakan sampai tidak cukup,” beber Ali kepada Malang Post.
Mahasiswa Jurusan Administrasi Negara ini menguraikan, untuk peserta yang ikut dalam perlombaan MTQ dari berbagai daerah yang meliputi Banyuwangi, Gresik, Jombang, Lamongan, Pamekasan, Probolinggo, Kediri, Lawang, Pasuruan, Kediri, Jember, Gresik, Mojokerto, Sidoarjo, Banyuwangi, Magetan dan Malang Raya.
Sedangkan untuk kriteria penilian, untuk lomba tartil sama dengan tahfidz  yang dilihat dari fashohah/tadjwid, lagu dan kelancaran. Sedang untuk lomba kaligrafi dinilai dari kaidah, khat kaligrafi, kebenaran kalimat dan harakat kelengkapan huruf, keindahan kombinasi warna dan dekorasi, kerapian tulisan hingga kebersihan.
“Berbeda dengan pidato bahasa arab dan bahasa inggris. Untuk penilaian dilihat dari kerapian dan kebersihan, kelancaran, isi materi, mimik atau ekspresi dan adab. Dengan tema yang telah ditentukan oleh panitia yang diantaranya masalah narkoba, kenakalan remaja, pendidikan, teknologi dan informasi,” tandasnya. (eri/adv/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :