Ditambah Unsur Etnik, Busana Hijab Makin Cantik


MALANG - Nuansa etnik pada busana hijab desain dari  Maulidia Ayu membawanya sebagai juara umum dan favorit di festival fashion yang terselenggara dalam rangka Uji Kompetensi Keahlian (UKK) kelas XII jurusan tata busana tahun ini.
Proses penyelesaian busana hijab ini memakan waktu selama 3 hari mulai dari menjahit, menyulam, dan tahap finishing pada proses wawancara saat UKK. Maulidia menggunakan kain katun rami yang memang lebih nyaman digunakan dan elegan dikenakan.
“Lebih enak jatuhnya kalau dipakai, terus bahannya juga banyak digunakan di pasar,” ungkapnya.
Busana hijab yang didominasi warna hitam ini ditambah dengan topi berwarna jerami agar lebih terkesan modern dan klasik. Proses yang paling lama dirasakan pada tahapan menyulam karena dilakukan secara manual. Detailnya di kain etnik Indonesia yang ditonjolkan dengan jabot. Desain sulam hiasan penuh pada jabot atau yang dikenal dengan dasi ini. Busana hijab ini cocok untuk casual, formal, maupun informal.
Maulidia memilih Novinka adik kelasnya untuk membawakan busana hijab yang didesainnya. Finalis pada hijab metamorfosa ini merasa busana yang dibuatnya akan tepat dibawa Novinka yang memiliki tubuh proporsional. Maulidia mengaku menghabiskan kisaran biaya Rp 250 ribu untuk membeli bahannya saja.  “Ditambah aksesoris topi agar makin kekinian. Tahapan yang sulit ya menyulam hiasannya karena dikerjakan pakai tangan,” bebernya.
Karya Maulidia adalah salah satu dari 9 desain siswa yang diperagakan di panggung festival fashion.
“Kalau UKK tahun lalu mengangkat baju busana, tapi tahun ini berbeda dengan tema hijab. 90 siswa seluruhnya berkesempatan mengumpulkan desain dan 9 desain terbaik ditampilkan saat ini,” ujar Kaprodi Tata Busana SMKN 3 Malang, Ana Isro Iliani SPd kepada Malang Post kemarin.
Ana, sapaan akrab Ana Isro Iliani melanjutkan, baju hijab adalah universal dan penggunaannya lebih beragam. Festival fashion ini dilombakan untuk memotivasi siswa dan mengambil karya desain terbaik dari masing-masing kelas. Peserta dinilai langsung lewat polling dari penonton. Sekolah sendiri menyediakan 2,5 meter kain untuk setiap siswa. Siswa dituntut untuk mengombinasikan dan menyelesaikan busana yang mereka desain sesuai SKKN 11 unit kompetensi yang harus dipenuhi.  
“Ini mewadahi anak-anak untuk bisa mengekplor diri dan pada kompetisi ini diambil juara terbaik dan juara favorit,” tambahnya. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...