Tak Ada Mistar, Karet Tali Pun Jadi Media Lompat Tinggi


SISWA SMPN 6 tidak takut kembali main lompat tinggi. Mereka merasa pembelajaran olahraga lompat tinggi serasa main lompat tali. Betapa tidak, mistar yang digunakan saat pembelajaran dimodifikasi dari karet gelang. Siswa perlu berterimakasih atas kreatifitas guru PJOK, Drs Abdul Gofar MPd.
“Prinsipnya bagaimana membuat mereka senang, enjoy, dan ingin mengulang lagi. Sudah, pembelajaran akan menyenangkan,” ujar guru yang menjadi finalis gupres 2018 ini.
Dua sekolah yang memiliki mata pelajaran PJOK materi lompat tinggi hanya di SMPN 6 dan SMP 8 saja. Fasilitas standart lompat tinggi diperlukan mengingat olahraga atletik ini memiliki risiko tinggi. Hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran lompat tinggi adalah kompetensi guru yang mumpuni, sarana dan prasarana. Modifikasi media pembelajaran lompat tinggi berupa karet ini juga menjadi juara satu dalam lomba karya tulis ilmiah tingkat SMP.
“Mistar fiber lompat tinggi standartnya seharga Rp 15 juta, tergolong mahal belum lagi sekolah juga harus menyiapkan matrasnya. Makanya perlu modifikasi alatnya,” imbuhnya.
Dia menerangkan, bukan persoalan fasilitas olahraga lompat tinggi yang mahal saja yang mendorongnya mengganti mistar fiber. Dia miliki ide menggunakan karet untuk membuat pembelajaran lebih menyenangkan  dan tidak takut untuk lompat tinggi. Awalnya, Gofar mengganti mistar fiber dengan pipa PVC dan bambu. Namun dia mendapati siswanya enggan praktik lompat tinggi.
“Banyak unsur takut karena keras dan sakit saat melompat kata siswa. Mereka ragu-ragu melompat,” ungkap guru yang pernah bergabung di KONI selama 10 tahun ini.
Mengetahui hal tersebut, Gofar tak habis akal. Dia mulai memodifikasi tambang untuk digunakan sebagai media pembelajaran lompat tinggi. Melihat hasilnya, siswa mulai berani mempraktikkan lompat tinggi. Tak puas dari hasil modifikasinya, Gofur mulai kembali mengganti tambang menjadi karet gelang. “Ini lebih lentur dan tidak akan sakit jika dilompati siswa. Paling tidak mereka akan mengulang lagi teknik melompat yang benar (gaya straddle). Mereka akan merasakan seperti lompat tali,” tuturnya.
Jika ditanya mengapa memilih karet, dia menjelaskan bahwa bahan terobosan yakni karet mudah didapat dan murah. Sehingga sekolah hanya menyiapkan matras lompat tinggi saja. Hasilnya sangat berdampak pada prestasi siswa saat pembelajaran lompat tinggi. “Mereka setiap olahraga jadi bersemangat dan ingin melompat lagi. Saya berharap prestasi anak bisa meningkat,” tutup guru asal Sidoarjo ini. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...