LCD Bikin Guru Tak Kreatif


MALANG – Pada umumnya sekolah bangga ketika pembelajaran di kelasnya sudah menggunakan LCD. Dianggap mengikuti trend era digital, ternyata pembelajaran model tersebut bukan menunjukkan kualitas sistem belajar yang kreatif. Hal ini disampaikan oleh Guru Besar Universitas Negeri Surabaya, Prof Dr Suyatno MPd pada bimbingan inovasi yang diadakan Disdik.
“Penerapan LCD hanya stagnan, ya jalan ditempat karena guru menganggap cara belajar tersebut sudah bagus, padahal nilainya ya begitu-begitu saja,” tegasnya.
Pembelajaran menggunakan LCD membatasi anak mengeksplor kinestetiknya. Perlu media inovatif yang membuat anak bergerak, Gaya belajar yang bagus terintegrasi antara visual audio dan kinestetik. Jika ketiganya dipadukan siswa akan mendapat hasil yang luar biasa. Pertimbangan seberapa besar guru inovatif dapat dilihat dari nilai. Nilai jadi pedoman guru, misalnya murid mendapat rata-rata nilai UN 6 maka jelas ada yang salah pada guru. Dia menerangkan, guru harus punya target tahun depan nilai UN siswa mampu mencapai 8 dengan mengubah gaya mengajar.
“Sebenarnya anak Indonesia itu cerdas, namun bagaimana mengembangkan pikiran tidak bisa tanpa didukung dengan guru inovatif,” tuturnya.
Mengamati guru zaman now, setelah lulus S1 mereka cenderung malas membaca dan enggan untuk diskusi karena sudah merasa hebat. Padahal guru hebat selalu merefleksi diri dalam kegiatan mengajar. Kegiatan pembelajaran harus inovatif dan sebenarnya semua guru mampu inovatif. Sejauh ini Suyatno menilai guru hanya mengeluarkan 40% energinya. Sehingga jika diprosentase guru kreatif di Jawa Timur hanya berkisar 25%.
“Guru tidak bisa inovatif karena mindsetnya sendiri statis tidak terbuka dan hanya orang lain seperti instruktur yang mampu membuka minsetnya,” ungkapnya.
Dalam kondisi apapun, saat siswa dinilai tidak pintar itu bukan salah anak, tapi salah guru yang kurang inovatif. Mengajar dengan model lama seperti ceramah, memerintah, dan menghukum. Kepandaian anak dapat ditingkatkan melalui media inovatif. Saat ini di Indonesia masih abu-abu dalam konsep pembelajaran. Di luar, seperti Finlandia dan Korea telah menanamkan pola pembelajaran long time dengan model evaluative yang banyak mengeksplore siswa. “Media inovatif itu murah, hanya memanfaatkan benda disekitar serta membuat permainan anak dengan gerakan tangan dan loncat. Anak itu juga harus diajak bermain biar pembelajarannya terkesan untuk mereka,” tambahnya.
Sementara itu, Kadisdik, Dra Zubaidah MM menilai guru di kota Malang dari tahun ke tahun terus bersaing dan tidak ketinggalan dengan kota lain. Terbukti juara gupres tingkat provinsi masih dipegang kota Malang. Dia mengimbau guru-guru yang sudah ditugasi untuk mengikuti bimbingan inovasi media pembelajaran ini mampu memberikan perubahan di sekolah mereka. Zubaidah juga menegaskan pentingnya disiplin bagi guru.  “Yang terlambat bimbingan teknik hari ini, panitia harus mencatatnya. Karena terlambat saja sudah mengurangi penilaian. Tidak hanya inovatif saja, kedisiplinan itu penting bagi kesuksesan guru,” tutupnya. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :