Wimar Witoelar: Demokrasi Bermakna Jika Peduli Lingkungan

 
MALANG – Tokoh demokrasi Indonesia Wimar Witoelar menegaskan, generasi muda merupakan salah satu bagian penting dalam proses demokrasi. Karena menurutnya, generasi muda lebih cerdas dalam menentukan dan melihat kebijakan yang dibawa oleh para calon pemangku kebijakan yang akan diterapkan di masyarakat. Salah satu yang paling penting adalah keberpihakan calon pemimpin terkait isu lingkungan.
“Demokrasi akan bermakna jika memperhatikan lingkungan, mulai dari bagaimana perlindungan terhadap lingkungan hidup diterapkan, bagaimana menyamakan cara pandang untuk menentukan kebijakan yang lebih baik. Karena itu kita harus percaya diri dengan ide matang sebelum melemparkan kebijakan tersebut,” ujar Wimar saat hadir di FISIP UB, kemarin. 
Apalagi, lanjutnya, tahun ini merupakan tahun politik, sehingga proses demokrasi dalam menggunakan hak suara dalam pilkada, pileg hingga pilpres menjadi penting untuk diketahui. Khususnya bagi para calon yang rekam jejak dan programnya menyangkut tentang kebijakan lingkungan hidup.
Ia mencontohkan, dengan perkembangan teknologi saat ini, orang bisa menyebarkan atau melemparkan ide sejauh mungkin. Baik melalui blog, vlog hingga youtube. Di mana nantinya akan diketahui seberapa besar dan banyak orang yang menanggapi. 
“Yakinlah kita punya kekuatan dalam kemajuan saat ini, tetapi juga harus menanggung konsekuensi dari yang dilakukan,” terangnya.
Sementara itu, Co-Founder & Core Team Gerakan Hutan Hutan itu Indonesia Gita Syahrani mengungkapkan betapa pentingnya menjaga lingkungan. Salah satu yang dapat menjaga hal tersebut adalah mahasiswa yang memiliki posisi strategis dalam mendorong kebijakan yang searah dengan keberlangsungan lingkungan.
“Menjaga lingkungan juga terkait dengan regulasi dari pemerintah, oleh karena itu pemerintah harus menerapkan UU pengelolaan hidup dengan tiga prinsip, yaitu daya tampung, daya dukung dan lenting. Selain itu, juga dari memelihara lingkungan diri sendiri,” bebernya.
Beberapa pengelolahan hidup yang terdiri dari daya tampung memiliki arti seberapa banyak lingkungan mememiliki daya tampung terhadap kerusakan, untuk daya dukung seberapa mampu kapasitas ekosistem atau lingkungan berkontribusi menyediakan air, oksigen secara optimal. Serta daya lenting, seberapa cepat alam bisa pulih dari kerusakan.
“Jadi kita bisa melakukan langkah kecil dari diri sendiri untuk menjaga lingkungan sekitar. Selain itu, melalaui demokrasi kita juga bisa menyuarakan hak kita melalui perwakilan dengan melihat program dan track record yang dibawa calon dalam menentukan kebijakan yang selaras dengan lingkungan,” pungkasnya. (eri/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :