Disuntik Vaksin, Siswa Nangis Histeris

 
MALANG – Kedatangan petugas Puskesmas Bareng ke SDN Bareng 1, pagi kemarin membuat sejumlah siswa menangis histeris. Para petugas yang akan memberikan suntikan vaksin terlihat berupaya keras membujuk agar siswa tenang dan tidak takut jarum.  Beberapa guru pun dengan sigap menemani siswanya. Tapi tidak sedikit pula yang terihat amat berani ketika petugas siap menyuntik.
Kemarin, SDN Bareng 1 mengikuti program pemerintah kampanye vaksinasi M Rubella bagi anak usia 9 bulan hingga 15 tahun untuk. Kegiatan ini diikuti 330 siswa SDN Bareng 1 kelas 1 sampai kelas 6.
Salah seorang siswa bahkan sudah menangis kencang sesaat setelah duduk di kursi, padahal petugas belum sempat memberikan tindakan. Melihat hal tersebut, salah seorang guru sigap dengan langsung memeluk dan menenangkan siswa, sementara petugas dengan cepat memasukkan jarum suntik. Suntikan hanya memerlukan waktu sekian detik, hingga kadang siswa tidak menyadari bahwa dirinya telah selesai disuntik. Atau saat menangani murid yang menangis, petugas sempat berbohong dengan menyatakan siswa tidak jadi disuntik.
"Sudah, tidak jadi disuntik.. Tidak jadi disuntik," ucap beberapa petugas kepada siswa yang histeris, padahal suntikan telah dilakukan dengan cepat tanpa diketahui siswa.
Untuk mempercepat proses imunisasi, petugas dibagi ke dalam dua lokasi yang masing-masing terdiri dari dua orang petugas suntik. Pasalnya, vaksin yang telah dibuka hanya memikiki ketahanan selama 6 jam, sehingga proses vaksinasi harus segera dilakukan. Selesai mendapatkan vaksin, siswa diarahkan ke salah satu petugas untuk mencelupkan ujung kelingkingnya ke tinta ungu layaknya pemilu, untuk menandai siswa selesai divaksin.
Kepala SDN Bareng 1, Drs. H. Adi Susilo, MM menuturkan empat hari sebelumnya sekolah telah memberikan surat edaran kepada orang tua siswa terkait dengan pelaksanaan vaksinasi ini. Beruntung, orang tua merespon dengan positif.
"Alhamdulillah semuanya mendukung, karena memang ini program gratis dari pemerintah. Kalau mandiri, orang tua harus biaya sendiri sebesar Rp 400 ribu rupiah," kata Adi.
Salah satu orang tua siswa kelas 1, Warti, menyambut baik program kesehatan dari pemerintah ini. Putrinya memang sempat merasa takut harus disuntik, namun Warti memberikan pengertian sebaik mungkin.
"Awalnya takut, lalu saya sampaikan kalau disuntik itu tidak akan sakit, juga saya alihkan agar tidak terlalu paranoid. Lagipula ini termasuk dalam investasi kesehatan jangka panjang, manfaatnya bukan hanya untuk saat ini saja," ujarnya. (mg19/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...