Jarum Suntik Bikin Siswa SMAN 2 Histeris


 
MALANG - Ketakutan melihat jarum suntik tak hanya dialami siswa SD saja, ternyata tak sedikit siswa SMA yang histeris melihatnya. Seperti terlihat ketika kegiatan imunisasi difteri di SMAN 2, kemarin. Ada yang menjerit, ada yang menangis, bahkan ada pula yang meminta dipeluk oleh guru. Seperti yang dilakukan oleh Gabriela yang mengaku takut jarum suntik sehingga dia meminta guru menemaninya.
“Tadi minta dipeluk tidak mau lihat alat-alat suntik. Persiapannya ya ndengerin musik dulu tadi biar tidak terlalu takut,” ujar siswi kelas X IPS 2 tersebut.
Dia memotivasi dirinya dengan merasa malu jika dibandingkan siswa SD yang berani diimunisasi. Dia mengaku belum ada edukasi lengkap dari sekolah terkait penyakit difteri. Namun dia mengerti akan bahaya penyakit ini dan berkeyakinan jika ingin bebas penyakit harus diimunisasi.
“Jarang mengikuti berita tentang difteri tapi setahu saya bisa menular lewat udara. Awalnya berupa sariawan dan sakit pernafasan,” ungkapnya.
Tak hanya Gabriela saja, Fifi Fauzia kelas XII IPA 4 ini bahkan menangis setelah disuntik. Dia hanya tahu penyakit difteri adalah penyakit tenggorokan yang bisa menular. Fifi mengaku pelaksanaan suntik kemarin mendadak meski sebelumnya sekolah sudah mewacanakan akan melaksanakan suntik difteri.
“Tidak hanya sakit, tapi sakit sekali. Namun ini penting demi kesehatan dan orang tua mendukung untuk ikut,” singkatnya sambil masih menangis.
Berbeda dengan Gabriela dan Fifi, Yotaro Oktavia Dewa mengaku berani dan tidak takut suntik. 
“Baca-baca soal difteri, kok serem jadi harus diimunisasilah. Tidak berasa tadi, dianjurkan guru dari rumah sudah sarapan dan banyak minum air putih, tapi kan sudah terbiasa,” tandasnya.
Sementara itu, Penanggung jawab UKS SMAN 2, Arief Farida menerangkan 90% siswa antusias dalam pelaksanaan suntik difteri ini. Terdata total 1.060 siswa dari kelas X-XII yang mengikuti suntik difteri. Dari seluruh siswa, sebanyak 5 anak yang sudah melaksanakan suntik difteri di lingkungan rumahnya dan 2 anak yang mengaku sakit sehingga tidak dapat diimunisasi.
“Ada anak yang sudah ikut di lingkungan rumahnya jadi orang tua datang kesini membawa bukti. Ada lagi yang sakit, jadi otomatis tidak bisa diimunisasi. Kami bisa mendata siswa karena ada absensi sehingga bisa dilihat seluruh siswa diimunisasi,” ungkapnya.
Dalam sosialisasi awal Maret lalu, penyakit difteri sendiri menjadi kejadian luar biasa di kota Malang karena terdapat sebanyak 14 kasus yang terjadi. Sebelumnya pihak sekolah sudah melakukan sosialisasi dan pemberitahuan kepada siswa terkait pelaksanaan imunisasi difteri.
Pelaksanaan suntik difteri ini dilakukan bekerja sama dengan Puskesmas Bareng dan gratis. Selain pencegahan penyakit difteri, sekolah juga melakukan sosialisasi tambah darah sejak 2017. Hal ini dilakukan bertujuan untuk mengedukasi siswa khususnya perempuan untuk menyiapkan generasi sehat.
“Ada beberapa yang awalnya enggan, tapi kita edukasi terus karena wanita kan punya resiko saat melahirkan kurang darah. Ini semua untuk pencegahan penting kita edukasi,” tutupnya. (mg3/oci) 

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...