SMAN 9 Tawarkan Kuliah Sambil Kerja di Taiwan


 
MALANG - Kuliah di luar negeri tak lagi hanya mimpi bagi siswa SMAN 9 Malang. Sebab, ada jatah kuota untuk 40 siswa bisa kuliah di Dayeh University Taiwan. Tak hanya sekadar studi, mereka juga bisa bekerja sambil kuliah.
Kepala SMAN 9 Malang Dr. Abdul Tedy menuturkan, jika lolos seleksi, siswa akan melakukan proses perkuliahan selama 2,5 hari dan bekerja di industri selama 2,5 hari pula dengan gaji Rp 4  juta – Rp 4,5 juta.  
“Mereka menawarkan lulusan untuk bekerja sambil kuliah. Ini adalah peluang besar khususnya bagi siswa yang berminat tinggi namun terbatas pada ekonomi,” tegas Tedy.
Menariknya lagi, siswa yang akan bekerja di perusahaan Taiwan tersebut tidak menduduki posisi pekerja biasa. Tapi mereka akan ditempatkan di level manajer. Sayangnya, Tedy belum bisa menyebutkan nama perusahaan yang akan menjadi tempat bekerja nantinya. 
Menurutnya, kunjungan Profesor Mei Ling Chen dari Dayen University beberapa waktu lalu di SMAN 9, lanjutnya, sudah menjelaskan hal ini kepada wali murid. Sejauh ini, disiapkan kuota siswa untuk seleksi sebanyak 40 siswa.
Terdata sudah ada 36 siswa yang mendaftar pada saat sosialisasi program kerja sama tersebut. Tahapan seleksi dimulai dengan test akademik dan nilai rapor terutama kemampuan bahasa yakni bahasa Inggris dan lokal Mandarin. 
“Kalau di sini kan sudah ada bahasa Jerman dan Jepang, nanti untuk pendalaman bahasa Mandarin kami akan bekerja sama dengan UB dan UM,” tuturnya.    
Sebelumnya, SMAN 9 juga telah mengembangkan program student exchange bersama Thailand selama tiga tahun. Bahkan dua minggu yang lalu, SMAN 9 juga sedang melakukan proses kerja sama dengan Turki dan Maret mendatang bersama Malaysia. 
“Manfaat bekerja sama dengan luar negeri untuk membuka cakrawala dan open mind karena di luar banyak sekali inovasi baru dalam hal pembelajaran yang mungkin belum dimiliki oleh sekolah sendiri,” kata dia.
Menariknya lagi, lanjut mantan guru SMAN 3 Malang ini, kerja sama dengan Dayeh University Taiwan ini terjalin karena terkesan dengan budaya siswa menata sepatu.
“Saat Profesor Mei Ling Chen melakukan kunjungan, dia terkesan dengan siswa kami yang menata sepatunya di aula. Saat ini siswa sholat di aula karena masjid sekolah masih proses pembangunan,” ujarnya.
Ia menerangkan, menata sepatu sebelum masuk aula sudah menjadi budaya di SMAN 9 Malang. Hal ini juga mengandung nilai filosofis tersendiri karena dapat menggambarkan karakter siswa. Menata sepatu dapat memunculkan nilai lebih karena sekaligus dapat melihat tingkat kedisiplinan, kerapian, kebersihan serta melatih kesabaran siswa.
Kedisiplinan siswa terlihat dari yang terlebih dulu menuju aula, otomatis sepatu mereka berada paling depan. “Kadang ada satu dua anak yang terburu-buru terus membiarkan sepatunya begitu saja, itu wajar. Berarti mereka tidak rapi dan tidak disiplin,” imbuhnya.
Nilai filosofis ini memberi dampak yang luar biasa bagi Profesor Mei Ling Chen dari Dayeh University Taiwan. Sehingga dia mantap bekerjasama dengan SMAN 9 untuk menerima lulusannya. Dayeh University Taiwan akan menyeleksi siswa secara nasional yang diimplementasikan bersama 10 Perusahaan besar di Taiwan. (mg3/oci)  

Berita Terkait

Berita Lainnya :