Manfaatkan Kulit Jeruk untuk Bahan Bakar, Raih Perunggu ISPO 2018

 
BAGUS Putra Pratama dan Ihsan Maulana Nugroho,  dua siswa MTs Negeri 1 Malang pekan lalu meraih medali perunggu dalam ajang Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) 2018. Keduanya berhasil mengharumkan nama MTs Negeri 1 Malang dalam kancah nasional di bidang sains.  Meskipun harus bersaing dengan siswa SMA/MA, Bagus dan Ihsan dengan penuh percaya diri berhasil meraih prestasi. 
Ditemui di sekolahnya, mereka berdua tampak senang.  Dua medali perunggu yang diperoleh menjadi bukti bahwa latihan dan usaha yang selama ini dilakukan membuahkan hasil. 
"Alhamdulillah,  kami berterimakasih kepada guru dan teman teman yang mendukung kami," ucap Ihsan.
Di ajang ISPO tahun ini,  Bagus dan Ihasan memperoleh prestasi di bidang fisika.  Karya ilmiah yang mereka pamerkan dan dipresentasikan dalam kompetisi tersebut berjudul N-FEVOREEL. Yaitu zat adiktif alami dari kulit jeruk. Karya mereka dikembangkan dari sebuah jurnal nasional di bidang pertanian. 
Dari hasil penelitian yang mereka lakukan ditemukan sebuah terobosan baru dalam bidang fisika, khususnya pemanfaatan energi. Roft booster alami untuk bahan bakar dari kulit jeruk manis sebagai solusi penghematan energi masa depan.  
Bagus menjelaskan ISPO yang mereka ikuti digelar selama dua hari.  Sesi pertama adalah pameran hasil karya.  Kemudian dilanjutkan dengan presentasi hasil penelitian.  Presentasi disampaikan ke dewan juri dan audien dalam bahasa inggris. 
Praktis,  ini menjadi tantangan tersendiri bagi mereka.  Apalagi harus bersaing dengan peserta lain yang dari jenjang SMA/SMK/MA. 
"Ya kami percaya diri saja, yang penting kami harus tampil yang terbaik, " tuturnya.
Sebenarnya ada tiga tim dari MTs Negeri 1 Malang yang lolos ke babak final ISPO tahun ini. Namun pada kompetisi yang digelar di Sekolah Kharisma Bangsa Tangerang Selatan ini, hanya satu tim yang berhasil membawa medali. 
Yaitu Bagus dan Ihsan di bidang fisika.  Dua tim yang lain adalah Zaki dan Atho’ di bidang Teknologi, serta Fadhil dan Aris di bidang lingkungan.
Guru pendamping tim Zahratul Mufidah mengatakan, pihaknya telah melakukan evaluasi. Terkait dua tim yang belum mendapat juara,  Ia dan tim guru telah menemukan kekurangan yang perlu dilakukan perbaikan untuk hasil yang lebih baik di masa yang akan datang.  
"Kalau Ihsan dan Bagus ini memang kami kenal anak yang rajin berlatih dan tekun beribadah, sama dengan siswa lainnya. Cuma mereka berdua dinilai paling ngotot saat presentasi, sehingga menjadi nilai lebih," ucapnya.
Kepada keduanya,  Fida berharap, agar dapat belajar lebih giat lagi,  sehingga bisa memunculkan ide-ide kreatif lainnya di bidang KIR.  (imm/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :