Khawatir Anak Diasuh Gadget, Pilih Lima Hari Sekolah

 

 
MALANG – Baru dilaksanakan tiga hari, Kepala SDN Rampal Celaket 1, Farida Ariani S.Pd optimis pelaksanaan Lima Hari Sekolah dapat memberikan efek baik bagi anak. Pasalnya, guru jadi memiliki waktu lebih panjang dalam penanaman karakter pada anak, terlebih dengan keadaan orang tua harus bekerja.
“Kebetulan banyak orang tua siswa kami yang bekerja dan baru pulang sore hari, sehingga mereka menyambut baik anak di sekolah lebih lama dalam pengawasan guru. Karena ketika anak-anak pulang tanpa keberadaan orang tua di rumah karena harus bekerja, kami khawatir mereka diasuh oleh televisi atau gadget,” papar Farida.
Lima Hari Sekolah di SDN Rampal Celaket 1 memberikan penekanan pada sisi religius siswa, meski nilai mandiri, nasionalis, integritas dan gotong royong tak lupa diajarkan dalam berbagai kegiatan. Pagi hari, siswa diperdengarkan lantunan murotal melalui audio kelas, yang diiringi dengan pembacaan juz amma bersama-sama. Nasionalis siswa dibentuk melalui upacara bendera, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu nasionalis lainnya, membacakan pancasila dan UUD 1945. Seusai pembelajaran, ada alokasi waktu dalam pembelajaran mandiri untuk pengerjaan tugas-tugas yang sebelumnya di dapat di sekolah.
“Sehingga setelah anak-anak pulang sekolah, mereka tidak lagi disibukkan dengan tugas-tugas sekolah. Jadi waktu untuk penanaman karakter dengan keluarga, lebih banyak dan berkualitas,” pungkasnya.
Persiapan penerapan Lima Hari Sekolah ini dilakukan melalui rapat koordinasi dan berbagai diskusi, termasuk penyesuaian program dengan kondisi yang ada di sekolah. Misalnya, dengan dua musala yang dimiliki sekolah nyatanya tidak dapat menampung seluruh siswa pada saat pelaksanaan sholat dzuhur. Kemudian, sekolah menyiasati dengan salat di musala dan masjid di dekat sekolah.
Meski libur di hari Sabtu, namun pendidikan karakter di rumah tetap dalam pengawasan orang tua. Orang tua diberikan buku belajar mandiri yang memuat poin-poin utama PPK, dan harus diwujudkan dalam satu jenis kegiatan anak dan orang tua.
Di SDN Bareng 1, program Lima Hari Sekolah juga baru dilaksanakan pada awal tahun ajaran baru ini. Diungkapkan Kepala SDN Bareng 1, Drs. H. Adi Susilo, MM, sejauh ini kendala masih pada anak-anak yang ramai ketika pelaksanaan salat Jumat. Namun, dengan evaluasi setiap hari, hal ini dapat segera diatasi melalui pengawasan guru. 
“Orang tua memberikan respon yang positif, karena untuk satu sisi saja , misalnya salat Jum’at, mereka tidak perlu lagi mendesak si anak karena secara otomatis dengan bimbingan ornag tua, anak pasti salat Jum’at,” ungkap Adi. 
Adi menilai manfaat dari suatu pendidikan memang tidak bisa dirasakan langsung dalam waktu dekat, terlebih dalam penanaman karakter. Namun dengan Lima Hari Sekolah ini, jadwal salat siswa lebih terjaga. (mg19/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :