Wadahi Siswa Potensial, Sukses Tembus Kejuaraan se-Jawa Bali


MALANG - SAAT siswa yang lainnya pulang, justru Meysika, Tiara, Naura, Visof, dan Felly tak lelah mengikuti kelas tambahan khusus di sekolah. Kelima siswa SDN Sukun 3 Malang ini, tengah asyik menunggu kelas MIPA dimulai dengan bermain di halaman sekolah.
Menjadi salah satu sekolah unggulan ditingkat Kecamatan, SDN Sukun 3 Malang sempat mengalami penurunan prestasi siswa. Hal tersebut menjadi perhatian khusus bagi sekolah untuk kembali mendongkrak kualitas dengan peningkatan prestasi belajar melalui kelas MIPA.
“Dulu ada kompetisi kok siswa tidak pernah lolos. Sehingga kami membentuk kelas MIPA yang diikuti siswa-siswa berprestasi. Ternyata banyak sekali yang ingin masuk kelas MIPA,” ujar Kepala SDN Sukun 3 Drs. Surahman kepada Malang Post.
Kelas MIPA ini diadakan setiap Selasa untuk menyiapkan siswa yang akan mengikuti lomba di luar sekolah. Meski diadakan usai pulang sekolah, ternyata banyak siswa yang berminat masuk. Namun untuk masuk kelas MIPA tidaklah mudah. Siswa harus menempuh seleksi mulai dari nilai hingga seleksi tulis. Mereka juga harus memiliki nilai 8 untuk pelajaran IPA, Matematika, dan Bahasa Inggris.
“Sebenarnya kami siapkan kuota kelas MIPA sebanyak 10 siswa. Nyatanya banyak yang daftar, sehingga ada 12 siswa yang masuk. Kami memilih siswa tertentu untuk masuk kelas ini karena memang dipersiapkan untuk lomba,” imbuhnya.
Tahun kedua kelas MIPA, siswa membuktikan prestasinya dengan berhasil mengikuti kompetisi di luar dan menjadi finalis tingkat Provinsi se Jawa-Bali. Kelas MIPA diyakini menjadi pendongkrak prestasi siswa untuk meningkatkan bakat dan minat mereka. Surahman menyadari setiap siswa memiliki kemampuan masing-masing baik akademik maupun non akademik. Namun kelas MIPA menjadi peluang untuk mewujudkan visi sebagai sekolah yang berkarakter dan bagus IPTEK nya.
“Tidak hanya siswa, orang tua juga antusias dengan adanya kelas MIPA karena mereka tidak keberatan anaknya mengikuti tambahan belajar,” bebernya.
Sementara itu, pembina kelas MIPA, Wahaf Efendi menilai bagus kelas MIPA yang sudah berjalan selama ini. Secara rutin siswa mendapat tambahan belajar selama satu setengah jam dengan modul yang disiapkan, bahkan dengan sistem percepatan. Pembelajaran kelas MIPA yang menggunakan modul elektronik dan koleksi soal dari materi kelas juga mengalami kendala terkait buku-buku bertaraf internasional yang minim.
“Pembelajaran siswa sendiri selama ini berlangsung fleksibel, meski siswa kelas 4 sudah mendapat latihan soal kelas 6. Kalau penilaiannya relatif yang terpenting mereka mau berusaha,” tandasnya.
Salah satu siswa yang mengikuti kompetisi lomba MIPA tingkat kota di perpustakaan kota Malang, Meysika Najwa. Siswi kelas 4 ini sedang menunggu pengumuman pelaksanaan kompetisi beberapa waktu lalu. Dia bersama 12 teman lainnya mengaku senang mengikuti pembelajaran karena ingin berkompetisi di luar. Meysika menceritakan, 7 dari 12 siswa kelas MIPA sudah mengikuti lomba MIPA. “Dulu juga pernah juara satu Sains se-Jawa Bali. Tips nya sih pede aja ngerjain soalnya, tidak takut,” tutup siswa yang bercita-cita menjadi dokter ini. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...