Ikatan Dinas Polinema Primadona


MALANG – Revolusi industri yang tengah diterapkan diberbagai perguruan tinggi negeri dapat dilihat dari banyaknya kerja sama dalam hal rekrutmen. Hal ini diterapkan berbeda oleh Polinema melalui pengadaan kelas ikatan dinas yang memiliki animo tinggi di tengah masyarakat.
“Kelas ikatan dinas ini kerja sama dengan PLN dan Garuda Maintenance Fasillity (GMF) yang mendapat animo tinggi sampai saat ini. Sebab keduanya diterima ikatan dinas 100 persen,” ujar Humas Polinema, Joko Santoso kepada Malang Post kemarin.
Penerimaan mahasiswa baru Polinema terbagi dari 30 persen PMDK, 30 persen UMPN, 25-30 persen MANDIRI, dan sisanya kelas ikatan dinas PLN dan GMF. Tahun ini, Polinema menyiapkan kuota sebanyak 3.300 mahasiswa. Evaluasi setiap tahun, animo kelas ikatan dinas PLN dan GMF masih terhitung tinggi.
“Kami menyediakan kuota 48 mahasiswa bagi masing-masing kelas PLN dan GMF yang terbagi menjadi dua kelas,” bebernya.
Masuk kelas kerja sama ikatan dinas tidaklah mudah, sebab mahasiswa, guru dan stakeholder (PLN dan GMF) menandatangani perjanjian meliputi IPK mahasiswa selama kuliah harus minimal 2,75 dan biaya ditanggung orang tua. Biaya di kelas ini juga tidak murah, untuk UKT kelas ikatan dinas untuk PLN sebesar Rp 8,5 juta per semester dan kelas GMF sebesar Rp 11,5 juta per semester yang ditambah SPP sebesar Rp 12 juta.
Kelas ikatan dinas PLN sudah berjalan lebih dulu selama 8 tahun terakhir. Kelas PLN dibuka untuk D3 Teknik Listrik dua kelas dengan masing-masing kelas kecil sebanyak 28 mahasiswa. Meski dua kelas, tahun lalu pendaftar di kelas ini cukup banyak sejumlah 200 pendaftar. “Lulusan mahasiswa teknik listrik ini akan ditempatkan sesuai dengan kebutuhan PLN,” ungkapnya.
Sama halnya dengan kelas ikatan dinas PLN, kelas GMF yang baru 3 tahun berjalan juga memiliki animo tinggi. Kelas GMF dibuka dua jenjang untuk D3 Teknik Mesin dan D3 Elektronika dengan masing-masing kelas kecil sebanyak 28 mahasiswa. Baru tiga tahun saja, tahun lalu pendaftar di dua jenjang ini total 800 pendaftar.
“Kalau lulusan teknik mesin, mereka akan bekerja untuk bidang mesin pesawat. Sementara untuk lulusan teknik elektronika, dibagian kontrol mesinnya,” tandasnya.
Dalam meningkatkan mutu pendidikan, dosen di kelas ikatan dinas GMF diupgrade secara rutin dan bertahap untuk pelatihan mesin pesawat. Secara bertahap dua sampai tiga dosen diberangkatkan bergantian.    Fasilitas sarana dan prasarana lab juga ditingkatkan dengan rencana pembangunan hangar dan penambahan mesin pesawat untuk teknik mesin.
“Selama ini mahasiswa yang sudah setuju dengan perjanjian kelas kerjasama ikatan dinas memanfaatkan peluang tersebut dengan kuliah maksimal. Karena keuntungannya tidak hanya lulus diploma tapi juga langsung diterima kerja,” tutupnya. (mg3/oci)  

Berita Terkait

Berita Lainnya :