Kreatif, Siswa Buat Penyedot Debu dari Botol Bekas

 
ULANG Tahun sekolah  dirayakan tak biasa di SMPN 9 Malang. Menyambut hari jadi ke-39, sekolah menantang siswa berkreasi membuat inovasi untuk lingkungan. Saat ini, ada banyak ide yang terkumpul dari siswa SMPN 9 Malang yang tertuang dalam proposal penelitian.
Salah satunya pembuatan pembangkit listrik dari air garam. Karya ini dibuat oleh tim dari kelas VIII E. Alat yang dibutuhkan dalam penelitian ini yakni garam dapur halus, plat tembaga, kabel bekas, seng bekas, dan gelas bekas.  Nantinya garam akan dilarutkan terlebih dahulu kedalam air selanjutnya rangkaian kabel, plat tembaga, dan seng dimasukkan kedalam larutan air yang sudah tersambung dengan jam digital.
“Dalam beberapa detik nanti jam digital akan berjalan. Selain untuk menjalan jam digital pembangkit listrik ini nanti juga dapat digunakan untuk menyalakan lampu,” ujar Adining Rahayu, anggota tim.
Menurutnya, ketahanan dari pembangkit listrik dari air garam ini bisa tahan hingga 10 hari. Namun secara pasti ia belum mengujinya lebih jauh lagi.
“Ketahanannya bisa lebih dari 10 hari atau mungkin 2 minggu, karena secara pasti kami belum mengujinya. Pengujiannya akan kami lakukan minggu depan,” jelas Adining.
Kelompok lain juga tak mau kalah, siswi bernama Ucha Familia bersama tim bahkan telah membuat vacum cleaner dari botol bekas ukuran 1.5 liter. Vacum cleaner buatannya ini hanya cocok untuk membersihkan debu berukuran kecil saja seperti debu yang menempel di meja, kursi dan lemari.
“Kami memanfaatkan botol sprite yang banyak ditemui, kemudian kami rangkai dengan kabel bekas, dan sebagai penggeraknya kami menggunakan dynamo bekas,” papar Ucha.
Beragam inovasi tersebut akan dilombakan dalam Green Clean Class Festival (GCCF). Akan ada 16 tim dari kelas VII dan VIII. Penilaian meliputi besarnya manfaat dan aplikasinya di kelas. 
Sementara itu Humas SMPN 9 Dwi Endah Puspitasari, S.Pd, menambahkan, inovasi teknologi yang dibuat siswa harus menggunakan bahan dari sampah. Bahan tersebut juga bisa didaur ulang menjadi sesuatu yang memberi manfaat sekaligus mengasah kreativitas anak-anak.
“GCCF ini mengarahnya kepada pemanfaatan daur ulang yang bisa untuk penghematan energi, bagaimana mereka mengelola kelasnya dan peduli dengan lingkungan yang kemudian mereka terapkan dan menunjukkan hasilnya,” pungkas Endah. 
Ia menambahkan, lomba ini baru kali pertama digelar. Lomba ini sekaligus menjadi langkah untuk melahirkan kader siswa kreatif di SMPN 9 Malang. (mg7/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :