Surati Menag, Tolak Rektor Prof Haris

MALANG – Prof. Abdul Haris, M.Ag resmi menggantikan Prof. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang periode 2017-2021. Kemarin, Prof. Mudjia menyerahkan jabatannya kepada guru besar dari UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut. Namun, empat hari sebelumnya, Senat UIN Maliki melakukan upaya untuk “menolak” penetapan Prof. Abdul Haris sebagai rektor. 
Senat mengundang seluruh anggota untuk melakukan rapat koordinasi di ruang rektor pada Minggu malam (30/7/17). Dari 29 anggota senat, 21 orang menandatangani daftar hadir dalam rakor yang dalam undangan ditulis dimulai pukul 20.00. Daftar hadir inilah yang menjadi lampiran dalam surat yang dilayangkan kepada Menag tertanggal 30 Juli 2017. 
Ada lima poin yang ditulis dalam surat tanggapan atas pengangkatan dan pelantikan Rektor UIN Maliki dan ditandatangani Prof. Imam Suprayogo itu. Poin pertama, Senat meminta Menag memilih rektor dari internal UIN Maliki sendiri karena dinilai lebih faham visi dan misi serta sejarah dan konsep yang selama ini dikembangkan. (poin lengkap baca grafis, Red). 
Sekretaris Senat UIN Maliki, Prof. Dr. Mulyad, mengakui jika pada Hari Minggu (30/7), dua hari pasca pelantikan rektor baru diadakan rapat tertutup senat. Menurut pengakuannya, itu adalah upaya merespons keputusan menteri untuk mengganti rektor terpilih dengan rektor petahana. Sebab, senat menganggap rektor terpilih belum tentu bisa membangun dan memajukan UIN Maliki.
“Sebagai sekretaris, saya hanya menunaikan tugas dari ketua senat. Beliau meminta saya untuk tanda tangan. Saya lakukan itu,” kata dia kepada Malang Post. 
Ia mengaku, melakukan tanda tangan dengan sadar dan tanpa paksaan. Ia mewakili tim senat menyampaikan, upaya senat melakukan hal itu bukan untuk dukung mendukung rektor petahana Prof Mudjia Rahardjo. Namun, tegasnya, langkah itu dilakukan untuk masa depan UIN Maliki.

Berita Lainnya :