Batik dari Mayangsari dan Widiawati Asli Jepang


MALANG – Sebanyak 27 mahasiswa dari Kanda University of International Studies (KUIS) Jepang, menunjukkan kepiawaian menari, fashion show batik dan pencak silat, kemarin. Mereka sukses mengeyam pembelajaran yang diadakan oleh STIE Malangkucecwara sejak tanggal 16 Februari hingga 9 Maret 2018. Kesuksesan tersebut ditampilkan seluruh mahasiswa melalui gebyar seni dan gelar budaya kinerja belajar di Gedung Balekambang STIE Malangkucecwara Jumat (9/3) .
STIE Malangkucecwara menggelar intensif reguler dalam program pembelajaran Bahasa dan Budaya Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Hasil dari program itu, para mahasiswa menyuguhkan tari, batik dan pencak silat. Tiga pagelaran itu diperagakan secara berkelompok dan dan bergantian oleh seluruh mahasiswa.
Dimulai dengan fashion show dari karya batik yang mereka buat sendiri. Misuzu ‘Mayangsari’ Kikuchi dan Eri ‘Widiawati’ Sakiyama tampil di atas panggung. Mayangsari dan Widiawati adalah nama jawa yang mereka sandang selama di Indonesia. Saat tampil, mereka berdua memakai kebaya dan kain jarik.
Semakin anggun karena kedua tangannya terus memamerkan kain batik. Saat tampil itu, turut bergabung mahasiswa dari Polandia. Namanya Hanna Rzechowska yang telah enam bulan belajar di STIE Malangkucecwara.
Kain batik tradisional Jawa yang mereka beber di kedua tangan adalah buatan mereka buat sendiri. Khusus Misizu dan Eri satu bulan di Malang, mahasiswa asal Kanda University tersebut, tidak hanya belajar budaya. Tetapi juga ketrampilan membatik.
Fashion show batik itu mendapat banyak tepuk tangan dari tamu undangan yang merupakan para keluarga asuh selama di mereka tinggal satu bulan di Indonesia. Tak hanya batik, para mahasiswa juga ada yang tampil menari. Mereka membawakan Tari Gandrung, Tari Cendrawasih, ditampilkan dengan luwes dan penuh penghayatan. Ada pula mahasiswa yang menyuguhkan seni bela diri pencak silat, yang ditampilkan dengan sempurna.
Menurut Direktur Indonesian Studies Program Malangkuceswara School of Economics (ISP MCE) Suprapti M.Pd, gebyar seni dan gelar kinerja belajar program Bunga ini merupakan penutupan Program Bunga 2018.
“Penutupan ini merupakan apresiasi dari STIE Malangkucecwara bagi mahasiswa yang telah belajar bahasa dan budaya Indonesia,” ungkap Suprapti kepada Malang Post.
Selama belajar di Malang, dalam pembelajarannya mereka ditemani peer tutor Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing  (BIPA) Indonesian Studies Program Malangkuceswara School of Economics ISP-MCE. Selama satu bulan ada kegiatan baru yang juga diselenggarakan oleh mereka yaitu international day. Di mana para pihaknya bekerja sama dengan Pemkot Batu untuk menikmati wisata gratis di Batu. Selain itu, pihaknya juga melakukan kerja sama dengan Pemkot Malang dan Pemkab Malang.
 “Melalui program Bunga ini kami juga punya andil mengenalkan Indonesia, khususnya Malang Raya di mata dunia. Walaupun tidak dalam level besar, tetapi kami ingin menjadi bagaian dalam mengenalkan Indonesia bagi negara lain. Dengan begitu akan memberikan dampak positif Indonesia di segala bidang,” terangnya.
Program ini telah berjalan sejak tahun 2002. Awalnya hanya diikuti oleh enam mahasiswa. Dengan setiap tahunnya dilaksanakan mulai bulan Februari hingga Maret. “Dari program ini, sebelumnya kita hanya bekerja sama dengan Jepang. Saat ini berkembang dengan kampus di seluruh belahan dunia seperti Swedia, Mesir dan Amerika,” jelas Suprapti kepada Malang Post.
Sementara itu, dosen pendamping ISP MCE, Prof Suyoto menambahkan, ia sangat bangga dengan penampilan yang dibawakan oleh mahasiswa dari Kanda University tersebut. Pasalnya para mahasiswa itu mampu membuahkan pengalaman belajar yang cukup membanggakan. Baik dalam peningkatan kemampuan dan ketrampilan bahasa Inonesia serta pemahaman dan penyerapan unsur sosio dan budaya Indoneisa.
 “Kami senang mereka cepat menguasai seni budaya tradisonal yang dimiliki Indonesia. Itu dibuktikan mereka dalam acara penutupan kali ini dengan memamerkan hasil kerajinan batik. Penampilan tari sejumlah empat mahasiswa dan pencak silat oleh empat mahasiswa,” beber laki-laki yang sekaligus dosen Bahasa Indonesia Kanda University ini.
Sementara itu, salah satu mahasiswa Yoski Jatmiko Takeda mengakui sangat berkesan belajar di Bahasa Indonesia dan Budaya di di Malang melalui program Bunga yang dijadwalkan oleh Malangkuceswara.
“Saya sangat senang belajar dan berbagi dengan orang-orang di Malang. Ada banyak budaya yang saya baru kenali dan saya coba praktekkan. Selain itu orangnya juga ramah-ramah,” bebernya.
Selama di Malang, ia dan kawan-kawannya memang mendapat nama Jawa. Yoski sendiri diberni nama Jatmiko. Ia mengaku selama di Malang telah bermain ke berbagai tempat wisata seperti Gunung Bromo, Coban Pelangi dan tempat wisata edukasi lainnya. Pada penampilannya gebyar seni dan gelar kinerja belajar, Jatmiko juga dengan tangkat memperagakan seni bela diri pencak silat.
Pada acara penutupan tersebut, juga hadir Ketua STIE Malangkucecwara Drs. Benyamin Ph.D, Kepala Kantor Urusan Internasional (KUI) SITE MCE Ir. Dwinita Ariyani, MM, Ph.D, mewakili Wali Kota Batu, Kepala Dinas Pariwisata Batu, Plt Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Imam Suryono.(eri/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...