Asfary Zahidah Pangestuti, Atlet Panahan Berprestasi dan Penghafal Alquran


MALANG – Segudang prestasi di kompetisi panahan tak lantas membuat siswi SMA Muhammadiyah 3 Batu, Asfary Zahidah Pangestuti berpuas hati. Putri ketiga dari Titik Kopriyani ini merupakan juara kelas bertahan sekaligus seorang hafizah Alquran di sekolahnya. Meski begitu, dia mengaku masih belum puas  membahagiakan mamanya.
Dalam kompetisi Brawijaya Archery Club (BAC) 2018 kemarin, ia direkomendasikan kepala sekolah untuk mewakili Pasopati Archery Club dari SMP Muhammadiyah 8 Batu. Zahidah, sapaan akrab Asfary Zahidah Pangestuti dipilih karena ia merupakan pelatih ekskul panahan di SMP Muhammadiyah 8 Batu.
Kompetisi bergengsi BAC yang terselenggara di UB Center ini adalah kali kelima yang dia ikuti. Deretan kompetisi panahan sebelumnya yang diikuti meliputi Kejurda, Popda sebanyak 2 kali, dan Poprov. Bersiap dengan panahannya, siswa berjilbab ini menyelesaikan pertandingan dengan maksimal. “Kalau ini pertandingan yang pertama kali di indoor, sebelumnya di outdoor terus. Tantangannya ya lebih gelap karena pencahayaan kurang dan sasarannya lebih kecil,” ungkapnya ditemui usai kompetisi, kemarin.
Usai bertanding, dia tak sungkan meminta disuapi mamanya. Hal ini adalah sisi lain yang dimiliki oleh seorang Zahidah. Meski begitu, Zahidah terbentuk menjadi anak yang mandiri sejak tinggal hanya bersama ibunya karena perpisahan orang tua saat dia kelas 5 SD. Siswa kelahiran 9 April 2000 ini, justru lebih berprestasi kala itu, bahkan memunculkan hobby baru lainnya seperti main biola. Jiwa seni ini diakui turun dari neneknya.
“Tidak hanya panahan tapi juga suka biola, soalnya keduanya juga memanfaatkan kekuatan lengan,” tungkas siswa yang suka nonton drama Korea  ini.
Banyak pertanyaan bagaimana cara Zahidah untuk tetap berprestasi di sekolah ditengah mengikuti kompetisi panahan ini. Betapa tidak, dia tetap bertahan menjadi juara kelas sekaligus hafal Alquran sebanyak 2 juz. Dia terdidik sejak kecil untuk disiplin waktu, sehingga dia mampu mengoptimalkan prestasi akademik maupun non akademiknya. Dia terbiasa membagi waktunya untuk belajar, berlatih panahan, maupun hafalan Alquran. Siswa yang mengaku cara belajar dengan sistem audiotori ini, akhirnya memilih test masuk perguruan tinggi jurusan kimia murni lewat Bidikmisi dan SNMPTN di UB.  
“Kalau hafalan Alquran rutin mulai maghrib sampai isya’ dilanjutkan belajar sampai jam 09.00 WIB sambil mendengar murotal Alquran. Sementara berlatih panahan biasanya hari Sabtu dan Minggu,” ulas siswa yang mengaku sempat bercita-cita menjadi dokter itu.
Dengan beragam prestasi yang dimiliki anaknya tersebut, Titik, sapaan akrab Titik Kopriyani ini mengaku bangga dan terharu karena Zahidah mampu mandiri seperti yang diajarkannya selama ini. Titik yang juga sekaligus Ketua Pasopati Archery Club, SMP Muhammadiyah 8 Batu ini  tak henti menyupport dan mengoptimalkan potensi anaknya dibidang apapun.
“Hidup itu harus mandiri, berdiri tegak tidak boleh bergantung pada siapapun. Jadi wanita itu harus tangguh dimasa depan,” prinsip yang selalu ditanamkan kepada Zahidah. (mg3/sir/oci) 

Berita Terkait

Berita Lainnya :