STIE dan STMIK Asia Siap Merger


MALANG - STIE dan STMIK Asia sepakat melakukan merger, tahun ini. Dua perguruan tinggi di bawah asuhan Yayasan Pendidikan Tinggi Ekonomi Bisnis Teknologi (EBT) ini akan melebur jadi satu terhitung, April mendatang.
Ketua STIE Malang, Fathorrahman, SE., MM., menuturkan, merger ini dilakukan menanggapi seruan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mengenai merger perguruan tinggi gelombang pertama.
“STIE dan STMIK ini akan disatukan, nantinya akan berubah bentuk menjadi institute”, tuturnya.
Menristekdikti sebelumnya menyerukan mandat agar perguruan tinggi swasta yang belum memenuhi standar pendirian untuk segera menggabungkan diri. Standar yang harus dipenuhi tercantum dalam Peraturan Menteri nomor 100 tahun 2016, salah satunya adalah perguruan tinggi wajib memiliki minimal 10 program studi (prodi).
STIE Asia saat ini hanya memiliki dua prodi, satu untuk sarjana dan satu pascasarjana. Untuk STMIK ASIA, ada tiga program studi.
“Maka dari itu kita harus menyatu, utamanya untuk peningkatan mutu,” jelas Fathur.
Fathur menuturkan, penggabungan ini juga dalam rangka mengejar insentif yang disiapkan pemerintah.
“Kami tangkap peluang insentif ini untuk melakukan penyatuan pada tahun ini. Mumpung diberi kemudahan oleh pemerintah,” ujar Fathur.
Salah satu insentif yang diberikan adalah pemberian kemudahan pembukaan program studi baru. Termasuk tidak berlakunya moratorium prodi non science, technology, engineering, dan mathematic (STEM).
“Untuk PTS yang mau melakukan penyatuan atau penggabungan ini akan diberikan kemudahan untuk membuka prodi non-STEM, meskipun masih dalam masa moratorium,” urainya.
Kesempatan emas menembus moratorium akan menggiring kampus gabungan Asia untuk menambah prodi non-STEM.
“Kami akan buka prodi non-STEM, karena memang ini yang dibutuhkan pasar. Misalnya komunikasi kewirausahaan,” jelas Fathur.
Adapun pembukaan program studi kewirausahaan merupakan hal baru. Di  wilayah Malang sendiri Universitas Brawijaya menjadi satu-satunya perguruan tinggi yang membuka program studi tersebut.
Menggabungkan diri dalam satu yayasan lantas tidak membuat kampus ini menutup diri. Asia tetap membuka diri terhadap program merger PTS gelombang dua yang akan segera dibuka.
“Kami terbuka apabila ada perguruan tinggi lain yang mau bergabung. Dengan catatan bahwa penyesuaian distribusi kebijakan, konsep dan wewenang harus didiskusikan terlebih dahulu,” ujar Fathur. (mg8/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...