Selamat! Piala Adiwiyata Mandiri untuk SMAN 2

MALANG - Seluruh civitas SMAN 2 Malang tampak gembira menyambut piala Adiwiyata Mandiri tahun 2017, Kamis (3/8)  pagi. Dengan penuh ekspresi para siswa menyambut piala dengan yel-yel dan lantunan Salawat Al-Banjari sebagai tanda syukur akan perolehan prestasi yang sangat membanggakan ini.  
Piala Adiwiyata Mandiri diserahkan langsung oleh oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc kepada Kepala SMA Negeri 2 Malang Dr. RR Dwi Retno Udjian Ningsih. Tahun ini ada 113 sekolah yang mendapat gelar bergengsi ini. 25 diantaranya berasal berasal dari Jawa Timur, salah satunya SMAN 2 Malang. 
Dwi Retno Udjian Ningsih mengatakan, butuh waktu dua tahun SMAN 2 Malang untuk mencapai gelar Adiwiyata Mandiri. Sebelumnya, sekolah di jalan Laksamana Martadinata ini mendapat gelar Adiwiyata Nasional pada tahun 2015 lalu. Sejak itu, sekolah termotivasi untuk mencapai gelar tertinggi adiwiyata yang kini telah sukses diraihnya. 
“Alhamdulillah, Adiwiyata Mandiri telah kita raih. Ini berkat kerja keras yang selama ini kita lakukan,” ungkapnya. 
Dwi Retno menjelaskan, dalam kurun waktu dua tahun terakhir ada beberapa program yang dilakukan. Diantaranya pembinaan kepada sekolah imbas dan bidang administrasi sebagai syarat pengajuan menjadi Adiwiyata Mandiri. Beberapa sekolah imbas dari SMAN 2 Malang antara lain SMAN 1, SMAN 3, SMAN 6, SMA Dempo, SMKN 5, SMPN 3, SMPN 4, SMPN 6, dan SDN Bandulan.  
Selain itu, juga terdapat banyak hal yang menjadi poin penilaian. Seperti melakukan sosialisasi dan pembinaan secara langsung kepada masyarakat sekitar. Mulai dari pembinaan terhadap ibu-ibu PKK dan Karangtaruna tentang kepedulian lingkungan. Termasuk menjalin kerja sama dengan pihak-pihak pemerintahan, seperti kelurahan, kecamatan, puskesmas, pihak kepolisian dan BNN. 
Biasanya kerjasama ini dilakukan dalam bentuk kegiatan pemberdayaan lingkungan dan kesehatan. Misalnya kegiatan menanam pohon, pengolahan sampah dan sosialisasi hidup sehat dengan narasumber dari puskesmas dan BNN. 
“Peran serta masyarakat sangat besar terhadap keberhasilan adiwiyata di sekolah ini. Kami sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang terlibat,” ucapnya.
Di sisi lain, Dwi Retno menjelaskan kerberhasilan mencapai Adiwiyata Madiri bukan perkara mudah. Pihaknya telah bekerja keras meskipun terdapat banyak kesulitan ataupun kendala yang harus diselesaikan. 
Hal tersulit yang dinilainya cukup membutuhkan proses yang lama adalah membentuk karakter berperilaku hidup sehat di lingkungan sekolah. Termasuk penanaman 18 nilai karakter pada para siswa. Seperti sikap jujur, kerja sama, sopan santun, toleransi, cermat, teliti, tenggangrasa, dan lain-lain. 
“Nilai-nilai tersebut tidak bisa kita wujudkan dalam waktu singkat. Butuh pembiasaan dan bimbingan yang terus dilakukan guru kepada siswa,” terangnya. 
Ia menjelaskan, untuk menjadi sekolah Adiwiyata Mandiri tidak hanya karena lingkungan sekolah hijau. Tetapi semua aspek harus berbasis lingkungan. Seperti pembelajaran, RPP, perilaku, serta semua mata pelajaran harus terintegrasi dengan lingkungan. 
Retno menambahkan, dengan gelar Adiwiyata Mandiri berarti SMAN 2 Malang telah ikut dalam program pemerintah untuk mengurangi pemanasan global. “Semua sekolah dari semua jenjang wajib hukumnya mengikuti program Adiwiyata dari pemerintah. Hal tersebut betujuan untuk mengurangi pemanasan global,” tukasnya. (mp3/imm/sir/)
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...