Bangun Lanskap Pesisir Harus Perhatikan Ekologi


MALANG - Seorang arsitektur perlu memiliki pengetahuan terkait kompetensi ekologi sumber daya alam. Kompetensi ini terutama harus dimiliki mahasiswa arsitektur lanskap. Sebab, dalam penerapannya, mereka dituntut mampu mengembangkan perencanaan yang bersifat makro.
“Selama ini mahasiswa hanya tahu aktivitas lanskap sebatas penyusun taman kota. Padahal ilmu ekologi harus dikuasai mahasiswa arsitektur lanskap,” ujar Ketua Umum Perguruan Tinggi Negeri Ikatan Arsitektur Lanskap Indonesia (PN IALI) Dr Ir Siti Nurisyah MSLA, dalam seminar nasional himpunan mahasiswa prodi arsitektur lanskap Unitri, kemarin.
Dia melanjutkan, anak arsitek saat ini minim penguasaan tentang ekologi. Dalam ekologi, mahasiswa dikenalkan unsur sumber daya alam yang melibatkan perilaku masyarakat. Contohnya lanskap pesisir pantai menjadi kawasan yang hijau.
Menurutnya, hal ini harus menjadi kompetensi utama yang perlu dipublikasikan melalui perguruan tinggi. Kompetensi yang harus dimiliki mahasiswa meliputi planing dan desain. Dalam tahapan planning, tidak hanya ekologi saja yang harus dipahami tapi juga perilaku masyarakat. Sebab hal tersebut menentukan cara penggunaan desain lanskap nanti. “Kalau tahapan desain menurut saya tidak terlalu sulit karena menggambar sudah ada komputer jadi yang diperlukan hanya kreativitas,” bebernya.
Di Indonesia terdapat hanya 23 prodi arsitektur lanskap yang terhitung masih minim. Hal tersebut ditengarai perguruan tinggi tidak mudah membuka prodi arsitektur lanskap. Misalnya, dalam satu prodi harus memiliki 6 dosen yang mengampu pengetahuannya arsitektur lanskap tersebut. Belum lagi kemampuan mahasiswa di setiap universitas memiliki level berbeda. “Makanya saat ini kami dari IALI juga menetapkan standar, ini masih kami susun,” ungkapnya.
Terkait dengan lulusan arsitektur lanskap, menurutnya semua tergantung dosen di kelas. Dalam pembelajarannya, dia menerapkan mental mahasiswa sebagai pengusaha. Sebab mereka akan berpeluang lebih dalam hal pengetahuan. “Kalau dia masuk ke dalam tender, dia akan memiliki kebijakan, walaupun  dia punya pengetahuan, di lapangan membuat dia lebih jago. Sementara jika lulusan langsung ke Pemda, mereka akan terbatas pada pengetahuan,” tanggapnya.
Sementara itu, Dosen arsitektur lanskap, Rizki Alfian mengaku lulusan arsitektur lanskap 70% mengarah pada bidang pengelola yakni dinas terkait. Hal ini disebabkan faktor peminatan mahasiswa sendiri. Meski begitu, mahasiswa dalam prodi arsitektur lanskap harus mampu menempuh tahap perencanaan, perancangan, dan pengelola. Sehingga lulusannya mampu bekerja di bidang praktisi, peneliti, desainer, supervisor pengelola lanskap. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :