Bangun Kreativitas Siswa, Ubah Kertas Bekas jadi Topeng Malangan


SMPN 15 Malang memanfaatkan kertas bekas untuk diolah menjadi bahan dasar pembuatan topeng bernilai estetika tinggi. Dalam ekstrakurikuler topeng, sekolah mengajarkan siswa terampil membuat topeng.
Sekitar 30 siswa yang tergabung dalam ekstrakurikuler topeng ini. Mereka terlihat sangat cekatan mulai dari pembuatan bahan dasar hingga pelukisan topeng. Topeng yang dibuat adalah topeng malangan sebagai wujud melestarikan seni asli Malang.
Kepala SMPN 15 Malang Agus Wahyudi, S.Pd, M.Pd, mengatakan, ekstrakurikuler topeng ini berjalan baru satu tahun pelajaran dan berkolaborasi dengan ekstrakurikuler lukis. Topeng yang sudah dibuat akan dilanjutkan oleh ekstra lukis.
“Saat ini yang dikembangkan adalah motif batik dan natural, tapi masih proses riset untuk mendapatkan hasil terbaik, karena kontur wajahnya masih agak kasar sekarang ini hasil yang didapatkan lebih halus daripada saat produksi pertama,” kata Agus.
Pembuatan topeng dari kertas bekas ini membutuhkan waktu sekitar dua hari saja, apabila cuacanya mendukung. Proses penjemuran inilah yang membutuhkan waktu paling lama lantaran mengandalkan terik matahari. Tak jarang apabila cuaca mendung para siswa menyiasatinya dengan menggunakan hair dryer.
Topeng yang dibuat oleh siswa ini bukanlah terbuat dari kayu melainkan dari limbah kertas bekas yang dihancurkan dengan ditambahkan air hingga menyerupai bubur kemudian ditambah lem perekat. Kegunaan topeng ini pun bukan topeng yang dimanfaatkan untuk tari namun topeng untuk hiasan dinding dan lainnya.
“Topeng yang dibuat oleh siswa SMPN 15 Malang ini motifnya tidak murni sama dengan topeng malangan, karena disamping membangun kreativitas siswa juga supaya bisa berkolaborasi dengan ekstra melukis,” imbuh Agus.
Saat ini, topeng-topeng yang diproduksi siswa ekstrakurikuler belum sampai ke tahap pemasaran. Namun apabila ada tamu dari kota, kabupaten, atau pulau lain yang datang ke SMPN 15 Malang diberikan souvenir topeng hasil karya siswa. Beberapa tamu tersebut bahkan ada yang berminat membeli untuk dijadikan kenang-kenangan.
Sementara itu, Dra. Dyah U. Kaltarawati, guru Seni dan Budaya SMPN 15 Malang menambahkan, kegiatan ekstrakurikuler topeng ini diadakan seminggu sekali pada Selasa. Dalam sekali produksi, siswa ekstra topeng bisa memproduksi sekitar 11 buah.
“Kami memproduksi hanya seminggu sekali, karena cetakan kami masih terbatas yakni sekitar 11 unit,” imbuh Dyah.
Sarah Ika, siswa kelas 7D SMPN 15 Malang, turut senang dengan adanya ekstra topeng dan lukis, lantaran ia dapat menyalurkan hobi melukisnya di sekolah.
“Melukis bisa dimana saja termasuk di topeng malangan ini. Selain menambah kreativitas melukis di sebuah topeng juga membutuhkan lebih banyak ketelitian karena medianya lebih kecil dari kanvas, selain itu juga banyak motif yang ukurannya kecil jadi membutuhkan kejelian lebih,” imbuh Sarah. (mg7/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :