Marsella3 Evo 1 Dilirik PT Boeing Amerika


MALANG - Ajang Shell Eco-Marathon (SEM) Asia 2018 Singapura melambungkan nama Universitas Brawijaya ke Amerika. Mobil elektrik Marsella3 Evo 1 rancangan mahasiswa UB dilirik PT Boeing, perusahaan pesawat terbang Amerika. Perusahaan tersebut menawarkan riset lebih lanjut untuk mobil hemat energi tersebut.
“PT. Boeing, perusahaan pesawat terbang Amerika menawarkan untuk riset lebih lanjut pada mobil elektrik ini,” ujar Tiara Shinta, mahasiswa semester 6 tersebut.
Kompetisi Shell Eco-Marathon Asia 2018 di Singapura diikuti oleh 222 tim dari 18 negara dari Asia Pasifik dan Timur Tengah. Kompetisi ini menuntut peserta dari seluruh dunia untuk mampu merancang, membangun, dan mengemudikan kendaraan hemat energi. Tim Apatte 62 berkompetisi untuk merancang kendaraan dengan jarak tempuh terjauh dengan jumlah bahan bakar terkecil dengan kategori UrbanConcept. Pada kompetisi tahunan ini, Tim Apatte 62 UB lolos menjadi juara empat. Tak hanya Amerika, Marsella3 Evo 1 sudah mendapat tawaran untuk ikut serta dalam pameran motor show di Jakarta pada April mendatang.
Tim Apatte 62 berencana untuk terus mengembangkan Marsella3 Evo 1  dengan memperbaiki point comfortable berupa AC dan power induknya jika akan digunakan sebagai mobil niaga.  
Marsella3 Evo 1 menghabiskan biaya Rp 140 juta, mobil ini memiliki efisiensi yang cukup bagus dengan bentuk futuristiknya. Bodynya yang didominasi warna putih dari kevlar ini memiliki berat 88 kg. Dilengkapi dengan baterai lithium yang memiliki energi 48 Volt diekspor dari China, sehingga mampu mampu menempuh 93,5 km/kwh. Tim Apatte ini diwakili oleh Aang Junaidi, M Syifauddin, dan Tiara Shinta R yang dibimbing oleh Dr Eng Eko Siswanto ST MT.
“Awal datang, mobil direpair dengan pengecekan kembali sesuai regulasi. Ada yang tidak lolos juga sekitar 11 tim dari 25 tim. Kalau sudah tidak lolos, maka tidak dapat turun lintasan,” ungkap M Syifauddin, salah satu anggota tim Apatte 62 UB.
Dia melanjutkan, mobil dengan body yang ringan ini tidak hanya lolos pada tahap awal saja. Marsella3 Evo 1 menjadi perwakilan Indonesia dalam opening ceremony sehingga dilihat media Internasional.
“Ini sangat membanggakan. Syaratnya mobil harus memiliki bentuk yang futuristik,” imbuhnya.
Lintasan yang harus ditempuh peserta sebanyak sembilan lap dengan waktu yang dibatasi sekitar 95 menit. Body mobil juga menjadi penilaian tersendiri dalam material yang ringan. Desain mobil memiliki pengaruh, sebab mampu menghambat aliran udara.
“Jadi desain depan mobil yang frontal area lebih kecil, maka dapat menghambat aliran udara. Ini berpengaruh pada energy mobil yang dibutuhkan,” tandas Aang Junaidi, mahasiswa semester delapan jurusan teknik mesin ini.
Meski begitu, mobil hemat energi ini telah melalui proses riset selama tiga tahun dengan perubahan body. Sebelumnya, body yang digunakan terbuat dari fiber glass yang lebih berat. Sehingga setelah uji coba, tim menggunakan body Kevlar yang lebih ringan tapi tetap kuat. Tahapan pembuatan yang paling sulit adalah mengombinasi mulai dari body yang harus ringan, bidang mekanik meliputi ban dan stiring, kelistrikan dan kontroler dengan sistem yang disesuaikan.
“Secara mekanis, sempat tidak sampai finis karena baring pecah dan flipnya putus, tapi secara total sudah baik,” imbuh Tiara Shinta, mahasiswa semester 6 tersebut. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...