Poltekom Jalin Pertukaran Pelajar dengan Singapura

 
MALANG – Poltekom melakukan student exchange dengan Politeknik Republik Singapura. Pertukaran pelajar ini memiliki level yang lebih tinggi, karena tidak hanya pertukaran budaya saja tapi juga pertukaran kepemimpinan. Hal ini menyesuaikan program revitalisasi Politeknik dengan Menristekdikti.
“Student exchange leadership dalam konteks program dapat menyumbang daya saing nasional,” ujar Direktur Poltekom  Dr Isnandar MT kepada Malang Post.
Dia melanjutkan, melalui riset dan publikasi student  exchange leadership akan sangat berjalan dengan program yang dijalankan oleh pemerintah. Programnya tidak hanya melakukan pertukaran budaya dan menjalin kerjasama antar negara.
Melainkan menghasilkan mahasiswa yang kompetitif dan bersaing sebagai masyarakat ASEAN melalui aplikasi kontrol.
“Era now, agar tidak kagok semua harus kompetitif, menumbuhkan jiwa kepemimpinan mahasiwa. Mahasiswa dituntut membuat aplikasi yang dapat diterapkan dikehidupan masyarakat,” imbuhnya.
Pertukaran pelajar atas kerjasama Poltekom, Republik Politeknik Singapura, dan juga Polinema ini dilakukan selama tiga minggu. Pada Oktober lalu, mahasiswa dari Indonesia ke Singapura. Namun saat ini, ada kunjungan balasan dari mahasiswa Republik Politeknik Singapura. 
Pada kunjungan pertama, mereka menikmati makanan Indonesia yang terkenal seperti soto. Selanjutnya, mereka berkeliling Poltekom untuk melihat potensi maupun perangkat aplikasi yang telah tersedia disana.
“Untuk mahasiswa Indonesia sendiri, baik dari Poltekom maupun Polinema juga harus melakukan seleksi terhadap calon pelajar yang berhak mengikuti student  exchange leadership selama tiga bulan,” ungkap Dosen TI Polinema, Dr Eng Cahya Rahmad ST M Kom.
Cahya menanggapi proses pembelajaran antara Politeknik Indonesia dengan luar negeri. Di luar negeri memang terkenal dengan student center learning yang menuntut mahasiswa mandiri dan aktif dalam penyelesaian masalah.
Sehingga saat pertukaran pelajar disana, mahasiswa Indonesia lebih banyak diasah untuk menemukan solusi dan membuat aplikasi.
“Mereka di ditempatkan ke suatu tempat, kemudian mereka akan menemukan solusi dari permasalahan. Misalnya di Singapura terkenal dengan lahan yang minim, maka mereka harus membuat aplikasi yang mampu mendukung kegiatan hidroponik,” tandasnya.
Mahasiswa dari Republik Politeknik Singapura selama tiga minggu kedepan akan ditempatkan di dua lokasi yakni di Pantai Clungup dan di Batu. Dengan cara yang sama mereka akan menemukan solusi dari permasalahan warga dan membuat aplikasinya. (mg3/aim)

Berita Terkait

Berita Lainnya :