Pemanasan Bumi Tanggung Jawab Arsitek


 
MALANG – Di kota-kota besar, representative bangunan masih memerlukan efisiensi energi. Hal ini dapat dilihat dari struktur bangunan yang kurang memenuhi elemen comfortable. Bangunan saat ini, menghasilkan pembakaran emisi gas yang memberi dampak buruk pada global warming. Sehingga diharapkan pembangunan dengan green arsitektur dapat menjadi solusi.
“Seandainya arsitek tidak tepat membentuk bangunan, maka bangunan tersebut akan membutuhkan tenaga elektrik yang justru merusak lingkungan,” ujar Dosen Universitas Teknologi Malaysia (UTM), Prof Dr Mohd Zein pada kuliah tamu yang bertajuk “Building Energy Eficiency” di ITN Malang, Kamis, (15/3/18).
Dia melanjutkan, elemen yang mempengaruhinya berupa temperatur, kandungan air, dan udara, serta unsur lainnya yang perlu diperhatikan seorang arsitektur sebelum merancang bangunan. Hal yang dibutuhkan untuk menghasilkan elemen tersebut adalah sumber tenaga fosil. 
“Hanya saja sumber fosil keperluannya setiap tahun meningkat,” bebernya.
Pemanasan global terjadi akibat pemanasan kulit bumi yang dihadang oleh lapisan CO2 yang juga dihasilkan dari pembakaran elektrik bangunan masa kini (efek rumah kaca). Setiap energi elektrik yang dikeluarkan pada suatu bangunan akan berpengaruh pada pemanasan global tersebut. 
“Bangunan tidak akan berfungsi tanpa ada unsur sumber energi. Seperti ditambahkan unsur tanaman hijau yang penerapannya berupa green arsitektur. Dengan penerapan ini juga mampu mencegah global warming,” tandasnya.
Penerapan green arsitek memiliki konsep dengan aneka pohon disekelilingnya yang bertujuan untuk mengurangi output tenaga elektrik. Selain itu, pencahayaan juga menjadi faktor utama yang diperhatikan seorang arsitektur. Sehingga diperlukan bangunan yang mampu mengintegrasikan energi konvensional rendah. 
“Maka seorang arsitek perlu memperhatikan indeks bangunan. Banyak teknik arsitek dalam mengatur pencahayaan, di Indonesia dikenal dengan Greenship,” pungkas dosen yang memiliki projek UTM Eco Home tersebut. 
Salah satu mahasiswa jurusan Arsitektur di ITN angkatan 2012, Zahrina AZ mengaku mendapat wawasan lebih terkait green arsitektur ini. Sebab, selama perkuliahan mahasiswa mendapat materi arsitektur secara umum.
“Hanya saja masih sedikit orang yang mengenal green arsitektur karena lebih mengutamakan pembangunan untuk mengambil untung (nilai ekonomis) tanpa memperhatikan lingkungan,” ungkapnya.
Sementara itu, Rektor ITN Malang Dr Ir Lalu Mulyadi MT mengungkapkan. kuliah tamu ini mampu memperkaya keilmuan mahasiswa. Hal ini juga disebabkan karena arsitek tidak hanya memikirkan konsep bangunan saja tapi juga lingkungan sekitar. Arsitek juga berperan dalam mencegah suhu kota Malang semakin panas melalui teknik bangunannya. 
“Dibeberapa tempat perlu kenyamanan suhu ruangan, sehingga konsep green arsitektur mampu menjadi pilihan. Jangan melulu menggunakan AC,” tandas rektor berkacamata ini.
Tidak hanya meningkatkan kompetensi mahasiswa di bidang arsitektur saja, ITN juga berkolaborasi dengan Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) berupa MoU bersama 33 SMA/SMK di kabupaten Trenggalek. Kerja sama digelar, kemarin di kampus ITN Malang. Ke depan, ITN juga akan berperan menggandeng guru SMA/SMK untuk meningkatkan kompetensinya sesuai bidang teknik yang tersedia di ITN. 
Sebelumnya, kerjasama telah dilakukan bersama MGBK di Kediri. Lalu menjelaskan mengapa memilih MGBK karena guru BK lebih mengenal karakteristik siswanya. Sehingga mereka akan merekomendasikan siswa terbaik di ITN. 
“Target saya ITN dapat menggandeng seluruh SMA SMK se Indonesia. Kita akan saling berkolaborasi, siswa mereka juga akan kami didik dengan profesional di ITN,” tutupnya. (mg3/sir/oci)  

Berita Terkait

Berita Lainnya :