Manfaatkan Gadged sebagai Media Pembelajaran Siswa


 
MALANG – Brawijaya Smart School (BSS) Malang bekerjasama dengan PT. Samsung Electronics Indonesia melakukan kerja sama untuk mencapai prestasi sekolah Digital Learning Class yang pertama di Kota Malang. Kerja sama dalam bentuk pengadaaan Samsung Smart Learning Class (SSLC) itu memanfaatkan gadged sebagai media belajar siswa. SSLC tersebut rencananya diresmikan pada 20 Maret mendatang.
Direktur BSS, Dr. Drs. Sugeng Rianto, M.Sc, mengatakan, SSLC tujuan utamanya sebagai kelas percontohan yang memanfaatkan gadged sehingga bias menunjang siswa dalam proses pembelajaran secara aktif.
“Tidak hanya untuk proses belajar, tetapi juga memberikan sistem yang mengatur semua elemen seperti manajemen sistemnya, mengatur waktunya kapan anak bias belajar atau kapan anak-anak tidak menggunakan gadgednya dan seterusnya,” ujarSugeng.
Lebih lanjut dengan SSLC ini nantinya siswa mendapat pengontrolan pengaksesan data melalui tekonologi geo tagging mengenai data-data yang diakses oleh siswa.
Kemudian gadged juga dibekali dengan pengontrolan waktu seperti jam sekolah gadged tersebut hanya bias digunakan untuk keperluan pendidikan saja. SSLC yang ada di BSS ini berkapasitas ruang 30 orang dengan dilengkapi berbagai peralatan dari PT. Samsung seperti tablet, virtual reality (VR), smart tv, dan headset.
Ruangan ini akan digunakan oleh para guru BSS terlebih dahulu untuk melatih mereka menggunakan teknologi ini sebelum menjadi media pembelajaran untuk siswa BSS.
“Terkait pembelajaran dunia digital ini sebelumnya kami sudah mengirim sekitar 25 guru untuk mengikuti training di Malaysia mengenai penggunaan gadged. Harapannya dengan ini guru bias mengajarkan keteman-temannya baik di SD, SMP, maupun SMA sehingga semua guru di BSS sudah bisa mengajar siswanya dengan menggunakan gadged,” terang Sugeng.
Training yang diberikan kepada guru sudah berjalan sebanyak empat kali dalam setahun. Tidak hanya training kepada guru tetapi, training juga diberikan kepada siswa kelas model sebanyak 30  siswa. Sedangkan training untuk seluruh guru dan siswa BSS  dilakukan pada 26 Maret mendatang secara bergilir.
Sistem pembelajaranSSLC disesuaikan dengan kurikulum BSS yang didesign sesuai kurikulum model pembelajaran abad 21. Proses pembelajaran bukan lagi monolog atau dialog melainkan kolaborasi sehingga satu meja digunakan oleh 6 sampai 8 siswa. SSLC menjadikan guru bukan sebagai pengajar yang paling pintar tetapi guru sifatnya sebagai coach (pelatih/fasilitator).
“Dari pembelajaran seperti ini siswa lebih banyak bekerja sendiri, berkolaborasi dengan teman-temannya, dipandu dari gadged tadi. Semua materi mulai dari video, power point, text, dan buku semua sudah tersedia di dalam gadged tersebut. Jadi guru hanya sebagai pengarah agar siswa tidak tersesat,” pungkasnya. (mg7/udi)

Berita Terkait

Berita Lainnya :