Move On, Civitas UIN Maliki Dukung Rektor Baru

MALANG – Suasana gedung pasca Sarjana UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang, Jumat pagi (4/8) tergambar jelas penuh keramah tamahan dan kehangatan. Para petinggi universitas berkumpul, menyambut kehadiran rektor baru Prof Dr Abdul Haris, M.Ag. Isu penolakan dan kudeta yang berhembus seolah ditepis dengan pemandangan pagi itu.
Anggota senat dan dosen yang sebelumnya masih sungkan untuk menyampaikan dukungan dan penerimaan terhadap rektor baru, juga terlihat mulai welcome dan terbuka menjawab wawancara. Sepertinya, embusan dan arah angin mengikuti langkah profesor yang gemar menulis puisi itu. 
Kemarin, Abdul Haris didampingi beberapa anggota senat mulai memelajari lingkungan UIN Maliki Malang, yang diawali dari gedung Pasca Sarjana. Ada Ketua Senat Prof Imam Suprayogo, Direktur Pasca Sarjana Prof Dr Baharuddin, Sekretaris Senat Prof Dr Mulyadi yang menemani Prof Haris berkeliling. 
Ia memulai tinjauan pertamanya di Gedung Pasca Sarjana, yang baru dibangun dan dipergunakan sejak dua tahun terakhir. Gedung yang merupakan bagian proyek bangunan bertuliskan Bismillahirrahmanirahim itu, menjadi salah satu kebanggaan prestasi rektor sebelumnya, Prof Dr Mudjia Rahardjo, M.Si. Ekspansi di area Junrejo ini juga merupakan program andalan UIN Maliki yang menjadi perhatian para petinggi kampus. Karena alasan itu pula Prof Haris memulai tinjauan pertamanya di sana. 
Haris mengaku senang, bisa benar-benar mengabdi di kampus almamaternya itu. Ia juga senang bisa belajar kembali dengan guru-gurunya, yang kini menjadi senat dan bertugas mengawasi kinerjanya selama empat tahun mendatang. 
Direktur Pasca Sarjana Prof Dr Baharuddin M.Pdi mengatakan, saat ini gonjang ganjing dan polemik tentang pilrek telah usai. Adanya pertemuan senat ketika hari libur yang sempat dipermasalahkan itupun bukan mempunyai tujuan untuk dukung mendukung pihak mana pun. Namun, untuk membicarakan masa depan UIN Maliki.
“Dafar hadir yang ditandatangani itu adalah daftar hadir biasa alias absen,” kata dia. Baharuddin nampak kurang bersemangat ketika disinggung soal hal itu. Ia juga menceritakan jalannya rapat senat malam itu (30/7). Baharuddin mengungkapkan, malam itu ia diundang untuk hadir dengan agenda menuju UIN lebih baik. “Ya memang malam itu bahasannya adalah terkait bagaimana UIN Maliki ke depan. Memang asumsinya, kalau dipimpin orang baru, kami berpikir, belum tentu bisa sebaik yang lama,” kata Baharuddin menceritakan.
Namun, lanjut dia, setelah mengetahui Prof Haris yang mempunyai semangat tinggi, ia pun kini mendukung.  “Ternyata beliau bagus. Semangat nya tinggi. Saya harap, beliau bisa memajukan UIN Maliki lebih baik lagi. Karena akan banyak PR nantinya,” kata dia.
Guru besar ilmu pendidikan agama Islam itupun mengatakan, sejak pelantikan  Abdul Haris, sudah tidak ada lagi dukung mendukung. Pesan-pesan di grup WhatsApp UIN yang berkata dan bernada kasar pun, sedikit demi sedikit sudah mulai hilang. “Itu tandanya semua sudah mendukung Prof Haris,” tandasnya.
Sekretaris Senat, Prof. Dr. Mulyadi juga mengaku, ia memberikan dukungan kepada Abdul Haris sepenuhnya. Sebab, ia melihat Haris ternyata cepat menyesuaikan dengan lingkungan dan suasana UIN Maliki. “Saya mendukung 100 persen sekarang. Karena ketangkasan beliau dalam memimpin sudah terlihat,” kata dia.
Dukungan lain yang hadir untuk Abdul Haris juga datang dari kalangan dosen. Dosen Bahasa Arab Pasca Sarjana UIN Maliki Dr. M. Abdul Hamid juga menyatakan dukungannya kepada Abdul Haris. Ia melihat, sifat responsif Abdul Haris yang cepat tanggap menanggapi permasalahan sekecil apapun, menjadi nilai lebih. “Misalnya tadi, begitu tahu ada sarana dan prasarana rusak, ia langsung bergegas mengajak diskusi,” katanya. Untuk program percepatan guru besarpun, Prof Haris langsung menelepon Kemenag untuk memohon bimbingan.
Dosen fakultas teknik, Dr. M. Walid, MA juga mendukung Abdul Haris sebagai rektor. Menurutnya, Abdul Haris adalah orang yang jujur. “Kampus ini menjadi lebih baik bila dipimpin orang yang jujur. Saya rasa beliau akan amanah. Dan harus amanah,” pungkasnya. 
Sementara itu, salah satu akademisi UIN Maliki mengatakan, sebenarnya dari sisi ke-NU-an, mayoritas warga UIN menerima kehadiran Prof Haris. “Sebab sebagian besar orang UIN ini kan ya NU. Kalau ada resistensi dan penolakan pasti karena ada alasannya, yang tidak perlu saya sebutkan apa saja secara detail,” ujar pria yang enggan disebutkan namanya ini.(sin/han) 
 

Berita Lainnya :