UMM-Singapore Polytechnic Mengabdi di Kota Batu


MALANG - Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Singapore Polytechnic (SP)
melakukan pengabdian di Temas, Batu. Dibalut dalam program Learning Express (LEx), mahasiswa UMM berkolaborasi bersama mahasiswa SP memecahkan masalah yang dialami masyarakat di sana. Kerja sama yang dibangun sejak tahun 2014 tersebut makin gencar dilakukan untuk membangun kualitas sumber daya manusia melalui kegiatan pengabdian masyarakat.
Menurut Ambika Putri Co-Facilitator LEx, angkatan pertama tahun ini diikuti oleh 56 peserta, yakni 28 dari UMM dan 28 dari SP. Mereka dibagi menjadi empat kelompok. Jumlah ini bertambah dari angkatan sebelumnya, dengan tujuan agar program yang diciptakan lebih banyak, fokus serta dapat segera diaplikasikan di desa tempat observasi.
“Ini ditujukan agar hasil kerja kita lebih maksimal sehingga dapat menyelesaikan banyak problem dan segera diaplikasikan di desa,” ungkap Ambika dirilis Humas UMM.
Kegiatan ini dilaksanakan dengan pengembangan pembelajaran Design Thinking (DT). DT merupakan metode yang berfokus pada penyelesaian masalah yang digali melalui observasi lapangan dan berorientasi pada terciptanya produk atau program. Pada LEx angkatan 2018 ini, mahasiswa UMM dan SP tersebar di beberapa unit usaha masyarakat yang ada di Desa Temas Kota Batu.
Rangkaian kegiatan dibagi menjadi enam tahapan yang merupakan tahapan dari metode DT, yakni Sense and Sensibility, Define, Ideation, Prototyping, Co-Creation, dan Gallery Walk. Kegiatan-kegiatan tersebut akan diikuti oleh peserta mulai 11-22 Maret.
“Seluruh mahasiswa akan melewati enam tahap yang merupakan tahapan dari design thinking itu sendiri,” jelas Ambika.
Pada tahapan Sense and Sensibility dan Define, mahasiswa turun ke lapangan lalu bersama masyarakat melakukan rembuk untuk membuat outline dari problem yang tengah dihadapi oleh masyarakat. Pemandangan unik pun muncul saat mahasiswa asing bersama masyarakat, turun ke lapangan seperti pergi ke pasar tradisional lalu ikut menjajakan dagangan. Tan Zhi Yuan (Luke) salah satu mahasiswa SP menyatakan bahwa pengalaman istimewa ini dapat mengenalkannya lebih dengan kehidupan masyarakat setempat.
“Kegiatan ini unik dan seru soalnya mahasiswa asing bisa ikut jualan dan lebih dekat dengan masyarakat yang jadi tempat observasi, juga mengetahui budaya masyarakat di sini,” jelas mahasiswa Akuntasi tersebut.
Selanjutnya, pada tahapan Ideation dan Prototyping mahasiswa akan kembali ke kampus dan merancang ide dan menciptakan alat yang dapat menuntaskan masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Pada proses ini mahasiswa akan mulai berdiskusi secara intensif bersama kelompok masing-masing.
Salah satu kelompok bernama Tim Bakso menciptakan alat bernama Express Bakso Machine. Alat ini diciptakan untuk menjawab keresahan para pedagang bakso yang mengaku tidak dapat memproduksi bakso dalam jumlah banyak dalam waktu singkat sedangkan permintaan konsumen sangat tinggi.
Hesti Mirandah mahasiswa UMM yang juga merupakan salah satu anggota Tim Bakso menyampaikan, alat yang dibuat bersama mahasiswa SP ini sudah disetujui dan sesuai dengan kebutuhan pemilik usaha Bakso di Desa Temas.
“Alat yang kita presentasikan ini sudah dilihat dan disetujui oleh pemilik usaha. Bahkan beliau sangat senang melihat alat yang kami buat ini,” jelas Hesti.
Diakhir, sebelum melaksanakan Gallery Walk mahasiswa akan melaksanakan ¬Co-Creation yaitu kegiatan mempresentasikan ide atau alat yang sudah diciptakan ke masyarakat di desa observasi. Menurut Supriyatin Ketua PKK RT 01 Desa Temas program LEx adalah program yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat di Temas.
“Warga selalu nunggu kehadiran mahasiswa UMM dan Singapura itu untuk bisa menyumbangkan ide atas masalah usaha mereka,” tegas Supriyatin.
Program Lex diadakan sekali dalam setiap semester. Pada Kamis (22/3) nanti, akan digelar Gallery Walk di Aula BAU UMM sebagai penutup acara dimana para peserta akan mempresentasikan hasil program mereka. (oci/adv)

Berita Terkait

Berita Lainnya :