UB Daftarkan 16 Varietas Durian Baru


MALANG – 10 tahun lagi, Ngantang-Kasembon ditargetkan akan menjadi pusat durian unggul nasional. Pasalnya, setelah melakukan riset hampir 10 tahun, tenaga pembibit Fakultas Pertanian UB menyulap durian tidak enak menjadi durian unggul dari berbagai varietas. Sekaligus memberdayakan warga sekitar Waturejo untuk menemukan bibit-bibit berkualitas lainnya dari berbagai eksperimen.
“Setidaknya ada 127 bibit yang tersedia di dua hektar lahan bengkok desa Waturejo. Jenis yang ditanam adalah Arab, Jingga, Sepanjang Musim, dan jenis lokal lainnya. Untuk perawatan, 10 tenaga pembibit UB sudah ahli,” ujar Direktur Agrotechno Park UB, Prof Sumeru Ashari dalam agenda Obrolan Santai (Bonsai) di Ngantang, kemarin.
Pengembangan durian saat ini harus terus dilakukan. Mengingat hanya durian jenis lokal yang populer di Indonesia, sehingga belum mampu mengekspor. Selama ini fakultas durian riset center hanya mengembangkan durian lokal di Jawa saja. Rencananya, pihaknya akan mendaftarkan 16 varietas baru dengan pendataan karakteristik durian selengkapnya.
Dia melanjutkan, varietas durian yang baru dihasilkan belum ada nama karena belum didaftarkan. Pendataan kriteria durian meliputi warna, kandungan gula, rasa, dan berair atau tidak. Sehingga jika mendapat durian yang unggul harus didaftarkan ke varietas tanam, setelah dirilis harus ada APBD untuk dikembangkan. “Setelah dirilis itu ada kewajiban APBD untuk mengembangkan,” imbuhnya.
Fakultas Durian Riset Center menjadi salah satu pusat pengabdian masyarakat yang bertujuan agar petani dapat mengambil bibit dari koleksi yang tersedia. Prosedurnya berupa mengganti durian dengan memotong durian yang tidak enak dan diganti dengan varietas unggul. “Teknik unggul kami berupa top rafting yang mampu menghasilkan produk durian dengan kualitas baik. Kalau punya durian mutu rendah akan dipotong dengan jenis unggul,” ungkapnya.
Salah satu petani desa Waturejo, yang akrab disapa Ahmad Duren ini mengaku telah merasakan manfaat pelatihan bibit unggul durian atas sinergitas UB sejak 2002. Tak heran, dia mengaku mendapat untung setelah menemukan bibit unggul durian dan menjualnya. Dia menceritakan, sepertiga dari 1.000 pohon yang berada di lahan tersebut panen sebanyak dua kali dengan nilai jual yang mahal. “Saya tidak pernah jual durian di pasar. Sebab, orang-orang yang berdatangan sendiri ke rumah. Di sini ada jenis vodka super mulai dari Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu,” imbuh pria yang sudah menjadi petani durian sejak 1970. (mg3/oci)

Berita Lainnya :

loading...