Buka Prodi Aeronotika, Polinema Akan Bangun Hanggar


MALANG – Tahun ini, polinema akan membangun hanggar pesawat guna pendirian prodi baru Aeronotika. Sejak membuka kelas kerja sama PT Garuda Maintenance Facility (GMF) pada 2015, animo pendaftar cukup tinggi karena memiliki prospek yang bagus.
“Mengingat pemerintah jokowi sekarang berupaya meningkatkan infrastruktur transportasi vital di negara kepulauan, yang paling efisien dipilih adalah pesawat," ujar Direktur IV Polinema, Dr. Luchis Rubianto LRSC MMT kepada Malang Post, kemarin.
Dia melanjutkan, pada prodi Aeronotika yang memiliki materi perkuliahan perawatan pesawat pasti membutuhkan hanggar. Maka sebelum membuka prodi baru tersebut, Polinema membangun hanggar pesawat yang nantinya akan dilengkapi dengan dua pesawat. Kedua komponen penting ini digunakan sebagai bahan praktikum mahasiswa.
“Ini masih terus berkembang, rencananya akan menyiapkan pesawat konvensional yang memiliki baling-baling yang memungkinkan untuk praktikum,”imbuhnya.
Pengajuan pendanaan hangar, lanjutnya, menggunakan dana revitalisasi sekitar Rp 10 miliar. Namun, saat itu, tidak disetujui revitalisasi. Maka Polinema mengalihkan dana pembangunan dari dana revitalisasi ke dana Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). Hal ini diperbolehkan, sebab Polinema sudah BLU, sehingga memungkinkan untuk melakukan hal tersebut sesuai dengan persetujuan Kementerian. “Alasannya tidak diperbolehkan karena di awal revitalisasi tiga tahun lalu, kami mengajukan unggulannya yakni teaching factory kimia dengan pendukung control peralatan dari prodi elektronika. Tahun berikutnya, kami ingin mengakukan prodi mesin dan elektronika. Namun  revitalisasi menganjurkan untuk memfokuskan lebih dulu teaching factory untuk dikembangkan,” bebernya.
Jika hanggar siap, maka prodi aeronotika akan dibentuk dengan jenjang D3 dengan dua kelas seperti tahun lalu. 50% dosen pengajar berasal dari Polinema dan 50% sisanya berasal dari industri (GMF). Setidaknya, saat ini terdapat elapan dosen pengajar kelas GMF yang telah dibekali dengan sertifikat AMTO.
“Sertifikat AMTO adalah sertifikat Internasional Amerika yang didapatkan dari pelatihan yang bekerjasama dengan Kementrian Perhubungan,” ungkapnya.
Selama ini mahasiswa dinilai terus berprestasi dan stabil dalam nilai IPK. Mahasiswa akan menjalani empat semester di Polinema dan dua semester di GMF Jakarta. Meskipun UKT di kelas GMF cukup mahal, sebab banyak praktik. Namun orang tua tetap mendukung anaknya terus berkuliah sehingga tidak ada kasus DO.
Meski terus kerja sama dengan GMF, jika prodi aeronotika memiliki prospek yang terus baik. Maka Polinema juga berpeluang membentuk kelas regular. “Hampir semua maskapai memiliki tim perawatan pesawat sendiri, tidak hanya Garuda saja. Sehingga tidak menutup kemungkinan akan membuat kelas regular sendiri,” pungkasnya. (mg3/oci)  
WSB University Polandia Akan Kunjungi UMM//
MALANG- Minggu ini,  UMM mendapat kunjungan dari salah satu partner kerja sama Erasmus+ yaitu Wyzsza Szkola Bankowa University (WSB University) Poznan, Polandia. Kunjungan berlangsung di ruang sidang Wakil Rektor 1 UMM.
Asisten Rektor Bidang Kerjasama UMM, Soeparto mengaku sangat terhormat bisa bekerja sama dan mendapat kungan dari salah satu partner Erasmus+ UMM.
“Suatu kehormatan bagi UMM, karena bagaimana tidak, kita belum pernah bertemu secara fisik dengan mereka, tapi kita sudah bisa dipercaya menjadi partner Erasmus+ oleh WSB University. Bagi kita itu sungguh luar biasa,” ujar Soeparto dirilis Humas UMM.
Pada kunjungan kali ini, WSB University melakukan presentasi dan juga diskusi tentang program Erasmus+ bersama beberapa dosen dari Fakultas Ekonomi Bisnis UMM. Diwakili oleh dua dosen dari WSB University yaitu Krzysztof Sajon dan Roman Losinski, kunjungan ini rencananya akan berlangsung selama 7 hari dengan beberapa agenda yakni rapat dengan beberapa dosen UMM serta mengisi seminar untuk mahasiswa S1 Manajemen yang secara khusus akan menjelaskan tentang program Double Degree.
“Tujuan kunjungan ini adalah untuk program Erasmus+, kami ingin mengembangkan lebih dalam lagi tentang Erasmus+. Selain itu, tujuan utama kami datang ke UMM yaitu Tour Universitas untuk mengetahui seperti apa UMM itu sebagai partner Erasmus+,” jelas Krzysztof.
Di akhir Krzysztof menyampaikan pihaknya berharap bahwa pada waktu selanjutnya, kerja sama antara UMM dan juga WSB University dapat berlangsung dan menjadi semakin baik.
 “Kami berharap kerja sama ini bisa berlajut seterusnya,” ujar dosen yang akrab dipanggil Christopher tersebut. (oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :