Ilmu Arsitektur Harus Lestarikan Tradisi


 
MALANG – Arsitektur masa kini cenderung bebas bereksplorasi untuk mendesain rancangan bangunan sesuai perkembangan zaman. Namun, pentingnya kearifan lokal dan arsitektur masa lalu kurang banyak dipahami mahasiswa arsitektur. Hal ini yang mendorong perlunya pengembangan kurikulum lokalitas arsitektur.
“Jangan dipikir rancangan bangunan di Barat dan Eropa. Di Indonesia punya banyak lokalitas arsitekturnya, seperti candi. Sehingga dari kurikulum perlu ditingkatkan,” ujar Ketua Program Magister Arsitektur Lingkungan FTUB, Prof Ir Antariksa M Eng PhD kepada Malang Post.
Dia melanjutkan, kurikulum lokalitas arsitektur memang bukan yang dominan, tapi menyumbangkan pengetahuan ke materi perkuliahan lainnya. Masa kini, trend arsitek beragam, mulai dari yang profesional ke modern dan adapula yang kembali ke masa lalu. Namun menurutnya, teknik semacam itu lebih baik disatukan untuk pengembangan.
“Tidak perlu mengcoppy masa lalu dan didatangkan kembali, tapi apa yang bisa diambil untuk konteks ke masa depan,” imbuhnya.
Dalam riset arsitektur, objek dapat dilihat dari sudut pandang kearifan lokal. Sehingga hasil desainnya untuk mengembangkan mereka. Antariksa sering menunjukkan kepada mahasiswa, setiap struktur tradisional dapat dibuat modern. Meskipun tidak semua dapat diterapkan. 
“Misalnya dalam pembangunan digunakan teknologi tradisional, tapi bahan yang digunakan modern. Ini kan sudah melestarikan. Hanya saja, saat ini gedung lantai empat kan tidak mungkin dibangun dengan bambu. Jadi ada yang dapat digunakan, ada yang tidak,” terangnya.
Kenapa bangunan ratusan tahun ketika ada gempa tidak retak, sebab bahan yang digunakan berkualitas dan cenderung kuat. Dia bercerita, nenek moyang dahulu lebih bersahabat dengan alam, karena mereka memperhatikan faktor lingkungan. Mulai dari kondisi tempat, mentukan letak bangunan, bahkan jenis pohon yang akan digunakan. 
Melihat kompetensi mahasiswa, lebih banyak berminat ke arah profesional. Sehingga mereka juga dituntut keahlian dengan bekal yang sifatnya modern, seperti teknologi. Selain itu, dia menjelaskan perkuliahan arsitektur di UB juga didukung dengan peranan lab arsitektur nusantara.
Lab ini bukan bersifat fisik tapi adalah kelompok keahlian. Selain itu, UB juga tengah menyiapkan pendidikan profesi arsitektur (PPA) selama dua tahun menyusul perguruan tinggi lain yang sudah menerapkan.
“Disini ada enam dosen yang memiliki keahlian dibidang tersebut dan disebut lab arsitektur nusantara, dua diantaranya tengah melanjutkan pendidikan S3. Untuk program PPA masih tahap pematangan kurikulum dan butuh waktu untuk disiapkan,” tandasnya.
Pria yang menempuh S2 dan S3 arsitektur di Kiyoto Institute of Technology Jepang ini menuturkan bahwa arsitek memiliki tantangan berupa perkembangan teknologi. Apakah arsitektur akan cenderung mendorong beragam bangunan modern unik dari yang lain atau justru menumbuhkan kembali desain baru dengan melihat lingkungan sekitar.
”Tidak perlu mendoktrin mereka menuju pembangunan model apa, yang terpenting kreativitas mahasiswa, yang menilai kan orang lain,” tutupnya. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...