Beasiswa Santri, Lanjutkan Tradisi Pesantren di Dunia Kampus


MALANG – Stigma dunia pesantren dan perguruan tinggi yang selama ini berbeda, harus mulai dihilangkan mahasiswa. Pasalnya, santri yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi dapat terus menjalankan rutinitasnya seperti menghafal Alquran di kampus. Program ini bahkan diwadahi melalui beasiswa hafiz-hafizah yang telah banyak dilakukan di perguruan tinggi negeri dan swasta.
“Ini mampu mengubah mindset kepada sebagian yang berpikir bahwa dunia pesantren dan dunia perguruan tinggi itu dua dunia yang terpisah. Selama ini santri ya santri, kuliah ya kuliah,” ujar Wakil Rektor 1 Unisma, Prof Junaedi PhD kepada Malang Post.
Dia melanjutkan, beasiswa santri yang dari Kemenag masih dialokasikan kepada perguruan tinggi negeri. Sementara di Unisma sendiri beasiswa bagi lulusan pondok pesantren diwujudkan dalam beasiswa hafal Alquran yang cukup banyak diminati.
“Beasiswa hafal Alquran jelas ada levelnya.  Ada yang hafal lima juz atau 10 juz,” beber pria berkacamata ini.
Dalam rangka meningkatkan akses santri ke jenjang pendidikan tinggi, Unisma menyiapkan beasiswa hafiz dan hafizah kepada 50 mahasiswa. Mahasiswa akan mendapat beasiswa full dan setiap semester akan dipantau melalui IPK.
“Pada prodi eksak IPK harus minimal diatas 2,75, sementara prodi sosial di atas 3 tiap semester dan akan terus dipantau,” tandasnya.
Sementara di UIN Maliki Malang, juga menyiapkan beasiswa tahfiz Alquran setiap tahun. Rektor UIN Maliki Malang, Prof Dr Abdul Haris MAg mengaku program ini sudah banyak dilakukan hampir seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Peminat beasiswa ini sekitar 10 persen dari total pendaftar.
“Manfaatnya mereka mendapat beasiswa full dan program ini sudah banyak ditiru perguruan tinggi yang lain. Di UIN sendiri menyiapkan sekitar 20 kuota mahasiswa penerima beasiswa ini,” ungkap Haris.
Tidak hanya beasiswa tahfiz Alquran, UIN Maliki juga mendorong kreativitas dosen dan mahasiswa dalam menulis dan meneliti. Haris menuturkan, telah menyiapkan bantuan 1000 buku untuk memantapkan programnya. Selain itu, pihaknya juga menguatkan jaringan dunia Internasional dengan menambah mahasiswa dari berbagai negara.
“Ada 24 negara yang mengirimkan mahasiswa kuliah di sini. Sehingga terdata sebanyak 440 mahasiswa asing yang diterima dan dua peneliti. Mereka masuk melalui jalur beasiswa maupun mandiri,” imbuhnya. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :