Kewirausahaan Diajarkan Enam Semester di Ma Chung


MALANG – Mengoptimalkan mahasiswa dengan kompetensi real entrepreneurship, kewirausahaan menjadi mata kuliah wajib di Ma Chung. Pada prodi bisnis seperti fakultas ekonomi bisnis, mahasiswa harus menuntaskan enam semester.
Sementara non bisnis, mereka diberi kewajiban hanya dua semester saja. Dalam praktiknya, mahasiswa dituntut mampu merancang konsep bisnis, menguji coba, hingga mengurus legal plan bisnis mereka.
“Entrepreneurship harus real, kalau di kelas sama aja bohong. Jadi harus dikembangkan di lapangan setelah mengenal banyak macam enterprenenur,” ujar Wakil Rektor 1 Ma Chung, Dr Anna Triwijayanti SE MSi kepada Malang Post kemarin.
Dia melanjutkan, enterpeneurship itu sebenarnya spirit. Maka dalam pembelajarannya harus diawali dengan pengubahan mindset. Mindset mahasiswa harus terbentuk berupa pantang menyerah, kreatif, dan berpikir kritis. “Paling tidak, sekurang-kurangnya mereka bisa merancang bisnis dan tidak tergantung pada pencapaian,” tuturnya.
Dia membeberkan, mulai dari semester awal output yang diharapkan adalah ide bisnis mahasiswa. Siswa akan terbentuk dalam tim yang beranggotakan lima orang, kemudian akan diseleksi oleh dosen,” Yang penting ide mereka liar, bebas untuk membentuk bisnis apa,” tandasnya.
Selanjutnya, pada semester dua, ide pada konsep bisnis diuji coba. Bagaimana tolak ukur keberhasilannya, seperti laku atau tidak bisnis mereka di tengah masyarakat. Mahasiswa pada prodi non bisnis hanya mempelajari entrepreneurship sampai tahap ini. Sementara mahasiswa FEB harus kembali berkreasi dengan ide mereka di semester tiga. Mahasiswa harus menyelesaikan fungsi bisnis. Pada tahapan ini tim mulai menemukan masalah pada konsep bisnis mereka.
“Pada tahap ini terbentuk seleksi alam, bahkan bagi anggota tim yang tidak cocok satu sama lain, mereka yang tidak sevisi bisa berganti,” ungkapnya.
Tahap selanjutnya pada semester empat yakni legal plan. Mahasiswa tidak hanya menyusun konsep bisnis, tapi juga membuat dokumen plan berupa perencanaan perizinan dan form seperti edukasi sumber daya manusia dan rencana kontrol pegawai.
“Pada tahapan pengurusan aspek hukum ini, kami menginsert para praktisi untuk mengedukasi mahasiswa, seperti BPOM, MUI, dan notaris. Sehingga mereka paham secara real pengurusan dokumen bisnis sampai tahap perizinan,” bebernya.
Pada semester lima dan enam, projek bisnis mereka harus benar-benar terbentuk. Sebab, pada semester ini mereka dapat wajib menganalisa tingkat keberhasilan pasar dari bisnis mereka. Mereka harus mampu memperhitungkan nilai jual bisnis, harga, hingga promosi. Dari projek yang mahasiswa buat, jika dibandingkan antara produk dan jasa yang dihasilkan adalah tiga banding tujuh. Sehingga memang lebih banyak produk yang dihasilkan daripada jasa.
“Output yang dihasilkan adalah bagaimana produk tersebut layak jual sampai perkiraan anggaran biaya logis atau tidak,” ungkapnya.
Sedangkan pada semester akhir adalah real action di lapangan. Mahasiswa dituntut untuk membuat projeknya benar-benar laku di pasar. Bahkan pada ujian akhir semesternya, mahasiswa harus mengonsep suasana ruang perkuliahan seperti tempat bisnisnya.
“Misal mereka punya bisnis Spa, jadi mereka harus dandan seperti terapisnya menggunakan piyama dan ruangannya didesain seperti tempat Spa mereka. Selain itu penilainya juga seorang praktisi,” beber dosen yang juga mengajar marketing riset ini.
Tahun ini adalah masa transisi persiapan kurikulum entrepreneur 2.0, jika sebelumnya bersifat hanya sebagai bisnis plan tapi ke depan diterapkan pula sebagai skripsi projek bisnis plan. Kreasi bisnis mahasiswa dapat digunakan sebagai tugas akhir. Sehingga tidak berlaku sebagai mata kuliah saja tapi juga real bisnis. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...