SD Brawijaya Smart School Perkuat Nasionalisme, Ajak Siswa Belajar ke Jepang


TERTARIK dengan budaya Jepang yang menjunjung tinggi nasionalisme, SD BSS (Brawijaya Smart School) mengadakan kerja sama dengan Haraichi Elementary School Japan. Kerja sama dua negara ini diwujudkan dalam bentuk student exchange, masing-masing sekolah saling berkunjung untuk lebih mengenal satu dengan yang lainnya.
Pada awal Maret lalu, sebanyak 15 siswa Haraichi Elementary School Japan belajar selama satu minggu di Indonesia. Rencananya, SD BSS juga akan memboyong sekitar 10 siswanya ke Jepang bulan September mendatang.
Kepala SD BSS Malang Hari Budi Setiawan, M.Pdi, mengatakan, melalui student exchange ini tujuan utamanya yakni belajar mengenai kebudayaan dari dua belah pihak.
“Karena saya melihat Jepang ini secara nasionalis memiliki rasa cinta yang sangat tinggi terhadap negaranya,” kata dia.
Bahkan, lanjutnya,  ketika ia ke Jepang, para siswa di sana bahkan tidak mau berbicara dalam bahasa Inggris meskipun mereka juga belajar bahasa internasional tersebut. Sehingga, selama di sana, mereka harus berkomunikasi dengan bantuan penerjemah.
Wawan, sapaan akrab Hari Budi Setiawan menuturkan, dari situlah terbesit bahwa nilai-nilai cinta kepada bahasa sendiri perlu diterapkan kepada siswa. Selain itu, mereka memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi meski tidak ada yang melihat. Nilai-nilai tersebut yang perlu diterapkan kepada siswa sejak dini sehingga akan terbentuk akhlak dan patuh terhadap aturan yang berlaku di Indonesia.
“Berawal dari situlah kami memilih Jepang sebagai partner kami dalam bertukar pemikiran terkait budaya masing-masing, karena target kami salah satunya juga meningkatkan rasa nasionalisme siswa sejak dini,” kata Wawan.
Menurutnya, budaya Indonesia yang dimiliki saat ini perlu dipertahankan dengan tidak menggeser nilai-nilai budaya tersebut dengan modernisasi yang semakin gencar.
Untuk menghindari hal ini dibutuhkan peran dari orangtua, masyarakat, dan guru untuk memberikan batasan terhadap penggunaan teknologi dengan memberikan kegiatan yang lebih bermanfaat.
“Di Indonesia, anak kecil bahkan sudah paham penggunaan gadged, berbeda sekali dengan di Jepang yang memperbolehkan anak menggunakan gadged saat usia 14 tahun atau ketika mau memasuki SMP atau SMA. Padahal di Jepang teknologinya sangat maju,” ujarnya.
Dari student exchange inilah, lanjutnya, siswa diharapkan mampu memahami pentingnya mempertahankan kebudayaan bangsa sendiri. Disamping itu, pengetahuan internasional juga perlu diberikan kepada siswa supaya siswa memiliki wawasan yang luas.
“Tiga target yang ingin kami capai yakni menciptakan sekolah sebagai rumah kedua bagi siswa, yang kedua menata akhlak dan keteraturan siswa, dan yang ketiga memberikan pengetahuan internasional salah satunya melalui student exchange ini,” pungkas Wawan. (mg7/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :