Magister Teknik Pengasuh Penyu

PENDIDIKAN Teknik yang ditekuninya tak membuat Ach. Muhid Zainuri, ST., MT membatasi diri. Dosen Teknik Mesin Politeknik Negeri Malang  ini menjadi salah satu pendiri Konservasi Penyu dan Mangrove di Pantai Taman, Pacitan. Dengan semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi untuk mengabdikan ilmu bagi masyarakat, Muhid menggandeng seorang dosen biologi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan saling menggabungkan disiplin ilmu untuk merevitalisasi Pantai Taman.
Kepada Malang Post ia bercerita bahwa konsep konservasi yang ia canangkan bermula dari riset yang dilakukannya di PLTU Sudimoro pada tahun 2013. “Awalnya penyu-penyu itu bertelur di wilayah PLTU. Tapi karena tidak nyaman dan terancam dengan aktivitas di sana, akhirnya mereka berpindah. Saat itulah kami menemukan permasalahan ini,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa di samping habitat, kritisnya eksistensi penyu di Pacitan juga disebabkan oleh pola hidup masyarakatnya. “Masyarakat sana cenderung menganggap penyu itu sama seperti ikan. Jadi diburu dan diambil dagingnya. Ada juga yang menganggap bahwa penyu adalah binatang “malati” (kualat, Red), jadi kalau ketemu langsung dilepas ke laut,” katanya.
Berangkat dari permasalahan tersebut, Muhid bertekad untuk mendirikan kawasan konservasi demi mengedukasi masyarakat sekaligus melestarikan spesies penyu.
Minimnya ketertarikan masyarakat terhadap ekowisata menjadi tantangan tersendiri bagi Muhid.
“Jarang ada orang yang suka lihat mangrove atau penyu. Jadi kami harus menawarkan sesuatu yang lebih pada pengunjung,” tukasnya.
Agar menarik wisatawan, kawasan ini kemudian ia sulap dengan berbagai wahana menarik, seperti wahana perahu, kolam air tawar, kolam air laut, dan flying fox. Dengan klaim sebagai Flying fox tunggal terpanjang di Indonesia, wahana ini sempat menyita perhatian stasiun televise.
Tak sampai di situ, Muhid juga mencanangkan pendirian patung penyu yang terinspirasi dari Merlion di Singapura. “Patungnya sudah siap, tinggal mengatur agar air bisa mengalir seperti Merlion begitu,” ungkapnya.

Patung ini direncanakan akan berdiri sempurna pada April nanti.
Beritikad baik pada alam tak lantas melepaskannya dari kendala. Situs wisata besutannya ini sempat dirundung rugi akibat banjir rob dan badai cempaka pada 2017 lalu.
Konservasi yang berdiri kurang lebih lima tahun ini sudah berhasil menggairahkan perekonomian masyarakat sekitar.
“Pacitan terkenal wisatanya terutama di bagian Barat, namun bagian Timur masih belum terjamah. Semenjak konservasi ini berdiri, usaha kuliner Pacitan bangkit. Bahkan sekarang tiwul sudah menjadi khasnya Pacitan,” papar Muhid.
Ia juga berkata bahwa kawasan wisatanya mampu menyerap tenaga kerja lokal yang cenderung pergi ke kota untuk mendapat pekerjaan. Di samping itu, Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) serta penginapan juga mulai menggeliat.
Bagi sosok Muhid, penting untuk umat manusia sebagai makhluk tertinggi berperan aktif menjaga kestabilan ekosistem. Ia menekankan bahwa berbagi adalah kunci utama agar alam dan makhluk hidup dapat berdampingan dengan baik. (mg8/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :