Manfaatkan Waktu Subuh untuk Menulis


MALANG – Masih berusia 39 tahun tapi sudah menjadi guru besar. Dosen muda fakultas ekonomi bisnis Universitas Airlangga, Prof Badri Munir Sukoco SE MBA PhD diundang khusus oleh UIN Maliki. Kehadirannya diharapkan menyukseskan program percepatan guru besar UIN Maliki Malang. Ia berbagi tips kepada 110 lektor kepala UIN.
“Saya meraihnya juga tidak mudah. Dengan mendapat beasiswa dari Taiwan, disambi kerja dan konsisten menulis,” ujar pria berkacamata tersebut.
Dia membeberkan kisahnya bagaimana perjalanan hidupnya hingga menjadi guru besar termuda di Unair. Dimulai menjadi dosen selama enam tahun dua bulan, berlanjut menjadi lektor selama dua tahun enam bulan. Setelah itu naik sebagai lektor kepala selama tiga tahun delapan bulan hingga menjadi guru besar pada 2017 lalu.
“Saya melihat dosen S3 terhitung minim hanya 43% sejumlah 625 orang se Indonesia. Sementara guru besar hanya 5261 orang, 1.000 diantaranya berasal dari perguruan tinggi swasta,” ungkapnya.
Selama perjalanannya sebagai guru besar, dia tidak menyarankan untuk loncat jabatan. Sebab, banyak sekali sabotase yang mungkin terjadi seperti yang dialaminya.
“Saya dulu pernah diisukan selingkuh. Ini luar biasa sekali, tapi begitulah yang terjadi, sehingga saya tidak menyarankan anda untuk melalui tahap loncat jabatan dalam mempercepat langkah sebagai guru besar,” tandasnya.
Kemudian pria berkulit sawo matang tersebut menggambarkan percepatan guru besar dengan langkah Dr X. Dia menceritakan, agar Dr X segera menjadi guru besar setidaknya dia dapat menempuh komposisi pendidikan dan pengajaran 35%, penelitian 45%, pengabdian masyarakat 10%, dan penunjang lainnya 10%. Jadi prosentase lebih besar adalah penelitian. “Kalau saya dulu konsisten menulis penelitian usai subuh. Saya memanfaatkan waktu tersebut,” imbuhnya.
Selain membicarakan sisi teknis, Badri juga memberi tips agar calon guru besar di UIN Maliki lebih bersemangat lagi. Beberapa tips yang disampaikan meliputi mampu memenejemen waktu dan mengatur prioritas, rutin publikasi penelitian, rajin mengarsip berkas, hire assistant administrasi, terbuka pada setiap tawaran joint research atau publikasi, dan be nice and avoid making enemies. “Terkadang itu bagaimana ya, kalau para dosen cepat jadi guru besar, nanti negara rugi lagi memberi tunjangan. Jadi jangan cepat-cepat,” candanya.
Sementara itu, Wakil Rektor 1 UIN Maliki, Zainudin, mengaku dalam tiga tahun UIN siap melakukan program percepatan guru besar. Hal ini mengingat jumlah guru besar yang tidak ideal, sebab diperlukan paling tidak satu guru besar setiap prodi di UIN Maliki tersebut. Sehingga pihaknya siap memberi reward sebagai bentuk motivasi dan apresiasi terhadap dosen.
“Bagi yang ingin mengajukan guru besar tapi karya ilmiahnya kurang, maka dia dapat meminta biaya untuk menyusun artikel dan makalahnya. Kalau rewardnya disesuaikan dengan penelitiannya, UIN menyuport,” tegasnya. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...