Racik Jamu untuk Ayah, Awal Rezeki Bagi Shoffie


MALANG – Mengambil hikmah dari sakit sang ayah, Shoffie Bunga Navandia Mahasiswa Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM justru beruntung besar. Terobsesi kesembuhan ayahnya dengan membuatkan jamu pace atau lebih dikenal dengan mengkudu, akhirnya jamu buatannya menjadi ladang rezeki baginya.
“Sebenarnya tidak ada niatan untuk menjadikan jamu herbal buatan saya ini sebagai usaha. Karena awalnya ayah saya sakit lever dengan biaya berobat tinggi. Saya dikasih dua botol besar oleh teman ayah saya yang datang dari Korea, saya coba dan kondisinya membaik,” ungkap gadis asli Lumajang ini.
Khasiat pace atau mengkudu didapatnya dari teman ayahnya yang datang dari Korea. Karena kasihan melihat ayah Shoffie sakit, mendorongnya untuk mengajarkan proses pembuatan jamu herbal tersebut.
“Satu botol 1,5 liter, saya berikan pada ayah saya untuk penyembuhan tanpa takaran, pokoknya ayah saya cepat sembuh,” ungkapnya.
Dia bercerita, melihat perubahan yang membaik pada ayahnya, ia mencoba untuk membeli jamu herbal dari teman sang ayah. Namun, dia tidak berkenan karena hanya dikonsumsi pribadi. Karena itulah, ia bertekad untuk mencari tahu caranya. “Buah mengkudu tersebut difermentasi dengan cara yang tidak biasa,” bebernya.
Buah mengkudu untuk jamu tersebut haruslah yang terpilih dengan kualitas super dengan kriteria buah besar, tidak terlalu banyak biji, dan warna pangkalnya putih dengan tekstur keras. Selain buah berkualitas super, jenis tanah juga perlu diperhatikan. “Kendalanya waktu itu, tidak semua tanah bisa digunakan sebagai media, sehingga ada ukuran tersendiri untuk suhu udara dan tanahnya. Tapi Alhamdulillah ditempat saya adalah tanah yang subur,” tuturnya.
Buah mengkudu yang dipilih tersebut kemudian difermentasi di dalam tong sedang yang disiapkan, lalu ditutup dengan tanah. Proses fermentasi tidak dibantu dengan bahan kimia dan pengawet apapun. Sehingga dipastikan jamu tersebut aman dikonsumsi. “Justru semakin lama jamu pace tersebut semakin baik dikonsumsi. Sebab tidak ada bahan kimia yang ditambahkan saat proses fermentasi,” tuturnya.
Tidak hanya dicoba oleh ayahnya saja, jamu tersebut juga pernah dikonsumsinya saat dia mengalami sakit ginjal. Begitu pula, saat kakaknya sakit tumor rahim, kakaknya juga mengonsumsi jamunya secara rutin, hingga mendapat kesembuhan yang akhirnya tidak jadi dioperasi.
“Alhamdulillah setiap bulan setidaknya saya dapat menjual 350 botol per bulan dengan harga Rp 65.000 per botol,” tutupnya. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...