Beban Mengajar Hambat Produktivitas Dosen Menulis


MALANG – Program nasional Menristekdikti dalam percepatan guru besar, menuntut dosen untuk aktif menulis jurnal publikasi internasional dan konferensi. Dalam mencapainya, diperlukan konsistensi dosen untuk penelitian disela kegiatan mengajar. Hal inilah yang sering menjadi keluhan dosen dalam menjalankan tridarma.
“Budaya dosen untuk mengajar biasa, karena sudah menjadi kegiatan rutin. Budaya meneliti biasa karena masuk tupoksinya. Tapi bagaimana hasil penelitian diwujudkan dalam tulisan naskah akademik berupa publikasi, inilah yang masih rendah,” ujar Dekan Saintek UIN Maliki, Dr Sri Harini kepada Malang Post kemarin.
Dia melanjutkan, hal tersebut juga dirasakannya terlebih lagi saat ini dia tengah menunggu publikasi kedua. Menurut wanita asli Jawa Tengah ini, sebenarnya aturan Menristekdikti mudah sekali. Selain itu, standart nilai reviewer benar-benar dipantau. Meski begitu, kendala membuat buku yang berkualitas sering menjadi tantangan tersendiri.
“Buku yang dibuat dosen biasanya masih wilayah lokal, padahal untuk mencapai nilai tinggi ketentuannya buku tersebut dapat digunakan dalam skala internasional,” tuturnya.
Terkait dengan beban mengajar, dia menjelaskan beban mengajar sebenarnya sudah dalam porsi yang proporsional. Memang disetiap universitas memiliki kendala masing-masing. Tidak menutup kemungkinan di UIN, seperti pada pasca sarjana. Ada dari beberapa fakultas yang  overload sehingga dosen harus menanganinya.
“Jika dibebani beban mengajar maka dosen akan capek, sehingga dia tidak produktif lagi menulis,” ungkapnya.
Managemen waktu menjadi catatan tersendiri bagi dosen yang sedang menulis. Sebab, terkadang dosen menjadi konsultan di beberapa lembaga. Maka, menurut Sri Harini kembali ke managemen masing-masing.
“Jika tidak dapat memanagemen waktu dengan baik, pasti akan hilang kesempatannya,” singkat dosen Statistika ini.
Strategi yang paling mudah adalah grup riset. Dalam pelaksanaannya, ada tim yang berisi tiga orang dosen muda dan senior. Ide dan instrument akan digagas bersama dengan pemantauan yang aktif. Maka minimal setahun akan ada tiga publikasi. Sehingga aka nada pendampingan hingga terbit di publikasi internasional.
“Itu adalah strategi akademik yang tidak melanggar kaidah dan pengembangan keilmuan,” tandas wanita berjilbab ini.
Program percepatan guru besar di UIN Maliki Malang memiliki strategi seperti dalam setahun harus ada lima calon guru besar. Maka, empat tahun kepemimpinan akan ada 20 guru besar. Setiap prodi ditargetkan menyumbang minimal satu guru besar.
“Misalnya kalau mau dua tahun jadi guru besar, kita harus mampu menarget diri. Harus punya dua buku, dua publikasi internasional dan beberapa kali konferen. “Setiap artikel yang terbit ada rewardnya, tergantung kualitas. Semakin tinggi kualitasnya, maka makin besar rewardnya. Di UIN kisaran rewardnya sebesar Rp 5-20 juta yang berguna untuk memotivasi dosen juga sebenarnya,” tutup pendiri rumah jurnal UIN Maliki tersebut. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...