SMK Didorong Lahirkan Ahli Perfilman


MALANG – Dalam dua tahun terakhir, jumlah pembuatan film Indonesia yang masuk ke bioskop hampir 40%. Meski mengalami kemajuan, nyatanya dalam pembuatan film masih mengalami kekurangan kru. Sehingga Presiden memerintahkan Mendikbud untuk merevitalisasi program perfilman pada jenjang SMK.
“Pembuatan film Indonesia masih mengalami kekurangan kru, ini perlu kita support dengan perbaikan sarana dan prasarana yang ada, saya sudah sampaikan pada Menteri,” ujar Presiden RI, Ir H Joko Widodo usai menyaksikan pemutaran film produksi local, Yowis Ben di Cinemaxx, (29/3).
Menanggapi hal tersebut, Mendikbud, Prof Dr Muhadjir MPd juga menargetkan perbaikan program perfilman bagi jenjang SMK. Saat ini ada 120 SMK yang memiliki program perfilman, namun baru 18 SMK yang sudah direvitalisasi. Perbaikan sarana dan prasarana untuk menunjang program perfilman juga diperlukan.
“Sesuai dengan perintah presiden terkait dengan revitalisasi SMK. Hanya saja, memang biayanya mahal,” ungkapnya.
Tidak hanya terbatas dalam peralatan pendidikan untuk produksi film saja, kekurangan tenaga pengajar yang betul-betul memiliki keahlian sinematografi juga minim. Untuk mendorongnya, pemerintah akan memberi peluang kepada pelaku perfilman agar dapat menjadi tenaga pengajar “Terutama yang senior dan berpengalaman akan diberi sertifikat berupa SKKNI sehingga pengalamannya nanti akan disamakan dengan pendidikan formal. Ini cara kami untuk mendorong para ahli perfilman,” tuturnya.
Film Indonesia sudah mengalami perkembangan yang cukup pesat untuk pasar, Indonesa hampair 40% mengisi pasar perfilman , walaupun memang ini masih rendah dibanding misalnya Amerika, India, Jepang, setara dengan Argentina 36-37%. Sebenarnya, film nasional memiliki peluang yang besar di ruang bioskop Indonesia. Sebab, pemerintah kini juga mengampanyekan menonton film Indonesia di bioskop. Sehingga inilah kesempatan para film maker untuk berkarya.  
“Target kita minimal 50% dari perfilman nasional dapat mengisi pasar industry. Selain itu, juga mampu kedepan berkembang di kawasan Asean karena tastenya tidak jauh berbeda,” bebernya.
Kepala Pusat Pengembangan Perfilman Kemendikbud, Maman Wijaya juga menuturkan profesi perfilman ada 3000an dan nantinya juga akan difasilitasi adanya ujian sertifikasi untuk menunjang kompetensinya. Sebab, perusahanan asing yang akan merekrut sineas selalu melalui sertifikat. Sementara itu, terkait dengan revitalisasi SMK perfilman, baru ada beberapa SMK yang menjadi pilot project SMK perfilman seperti SMK Dr Soetomo di Surabaya. “Kalau di Malang sendiri, belum ada. Sehingga kami harapkan ini yang jadi pilot project dapat mengembangkannya di SMK lain. Termasuk kedepan akan disupport dengan para sarjana film,” tandasnya. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :