Miliki e-Library, Rekam Siswa yang Paling Rajin ke Perpustakaan

 
SEBAGAI sekolah rujukan, penting bagi SMAN 5 Malang untuk terus membuat inovasi terbaik dalam proses pembelajaran. Setelah beberapa saat yang lalu meluncurkan e-kantin, kini berbagai kegiatan yang dilakukan di sekolah dapat terdigitalisasi dalam satu kartu.
e-kantin SMAN 5 Malang memungkinkan siswa membayar dengan scaning pada kartu multifungsi yang telah terisi saldo. Jumlah uang yang harus dibayarkan siswa kepada penjual di kantin, akan terpotong otomatis dari saldo di kartu. Selain praktes, e-kantin juga aman karena siswa tidak perlu membawa uang dalam jumlah yang banyak.
“Kami memang ingin mengurangi jumlah uang cash yang beredar di sekolah, agar lebih aman tentunya. Selain itu juga dapoat melihat dalam satu hari berapakah jumlah uang yangberedar di sekolah,” kata Waka Humas SMAN 5 Malang, Irma Ariyani.
Fitur baru yang dapat diakses melalui kartu tersebut yakni e-library, dimana kegiatan literasi siswa dapat terekam di database dalam satu kartu tersebut. Misalnya, waktu-waktu siswa datang ke perpustakaan, buku yang dipinjam dan batas waktunya, juga buku yang sudah dalam batas waktu pengembalian.
“Siapa saja yang rajin ke perpustakaan, akan terlihat dari data di kartu tersebut. Juga dengan buku yang dipinjam, jadi kalau siswa terlambat mengembalikan buku, catatan yang ada di dalam kartu dapat sekaligus menjadi pengingatnya,” jelas Irma.
Dengan fitur e-test, siswa dapat melakukan ujian dengan terkomputerisasi., Manfaatnya, siswa langsung mengetahui nilainya sehingga dapat memutuskan apakah langsung melakukan remidi untuk perbaikan nilai, atau menunggu sampai satu kali penilaian baru kemudian mengikuti remidi. Selain meringankan beban mengoreksi pada guru, sistem ini juga dinilai ramah lingkungan karena tidak perlu menggunakan kertas.
“Dengan ini juga guru bisa mengetahui ukuran soal yang diberikan kepada siswa. Karena terekam secara digital, akan terlihat pola soal mana yang mungkin paling banyak siswa menjawab salah. Ini bisa dijadikan bahan evaluasi untuk pembelajaran dengan menggiatkan belajar di materi tersebut, atau diganti dengan soal yang lain,” urainya.
E-test ini juga didukung oleh sistem ujian yang sekarang telah dilakukan melalui online dengan menggunakan software yang dapat diinstal di ponsel android siswa dan terkoneksi melalui wifi sekolah. Cara ini dianggap ampuh untuk mengatasi panjangnya waktu yang dibutuhkan bila siswa harus bergantian menggunakan komputer di laboratorium sekolah.
“Dengan ini juga kejujuran siswa terjamin, karena seperti halnya dengan UNBK, soal yang dihadapi antara siswa berbeda satu sama lain, yakni teracak baik dari nomor soal ataupun urutan pilihan jawabannya,” imbuhnya.
Meski merupakan inovasi yang menarik, Irma mengakui program ini masih memerlukan banyak penyempurnaan. Pada e-school fee yang memungkinkan siswa melakukan pembayaran uang sekolah dengan kartu yang telah terisi saldo misalnya, ternyata banyak orang tua siswa yang membayarkan uang sekolah anaknya langsung tanpa melalui kartu. Namun, pihaknya akan terus memberikan inovasi baik dari segi kemudahan pelayanan pembelajaran, hingga kualitas pembelajarannya. (mg19/oci)

Berita Lainnya :

loading...