Atlet Wall Climbing Beradu di UIN Maliki


MALANG – Fasilitas wall climbing UIN Maliki Malang yang baru tiga bulan dibangun, langsung dijadikan arena bertanding para pemanjat tebing tingkat nasional yang diikuti 165 peserta. Pertandingan perdana ini mulai digelar 29 Maret lalu dan berakhir .
“Di universitas lain di Jawa Timur jarang ada kompetisi panjat tebing ini. Sehingga menjadi terobosan baru yang menawarkan atlet berlaga. Sudah banyak atlet di Malang seperti Toni Firmansyah menjadi juara Pelatnas di Asean Games,” ujar Presiden Juri Nasional Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) tingkat nasional, Iwan Rosidi kepada Malang Post, kemarin.
Dia melanjutkan, minat dan antusias peserta cukup tinggi. Ada peserta yang berasal dari Samarinda, Kalimantan, dan Bali. Sementara itu, dalam persiapannya FPTI sudah menjalankan SOP pertandingan dan pemeriksaan standart keamanan.
“Wall di UIN setinggi 18 meter ini sudah standar kompetisi, sehingga berharap kompetisi ini digelar setiap tahunnya. Tinggal meningkatkan kualitas pertandingan,” tuturnya.
Kompetensi peserta sangat ketat dalam pertandingan, bahkan atlet panjat tebing dan mapala banyak yang turun. Kategori penilaian terdiri dari lead dan speed. Lead dimaksudkan sebagai rintisan, artinya peserta harus berkompetisi mencapai puncak wall paling tinggi dengan batas waktu 6 menit. Sementara, speed yang berarti kecepatan ini adalah dua peserta diadu untuk mencapai puncak dengan waktu paling cepat.
“Bahkan ada yang mendapat rekor selama pertandingan yakni M Salim yang merupakan peserta pusmada Jatim dengan perolehan delapan detik lebih,” tandasnya.
Iwan, sapaan akrab Iwan Rosidi membeberkan, bagi atlet panjat tebing, yang perlu diperhatikan adalah kemampuan otot dan otak. Otak dilatih untuk memahami jalur dalam mengambil keputusan yang tepat selama bertanding, kemudian barulah nasib atau keberuntungan peserta yang berperan. Selain itu perlu diperhatikan pula pola hidup seperti jam tidur. Tidur harus teratur sebab saat berlaga harus fokus. Ditunjang dengan mengonsumsi makanan bergizi, mengurangi lemak, serta menambah protein dan karbo untuk tenaga.
 “Olahraga ekstrim ini dalam setiap pertandingannya tentu sudah memperhatikan aturan penyelenggara kompetisi. Jadi selama pelaksanaan sudah mendapat rekomendasi dari FPTI. Pertandingan yang menimbulkan risiko adalah saat terjadi human error,” ungkap FTPI dari Probolinggo ini.
Sementara itu, Ketua Mapala UIN Maliki, Ivan Najib Prajula juga mengaku mahasiswa yang tergabung mapala merasa disupport kampus dengan sarana penunjang wall climbing ini. Sebab, atlet panjat tebing di UIN Maliki memang masih minim. Mapala Tursina UIN Maliki ini menunjukkan eksistensinya melalui kompetisi nasional tersebut. Selain itu, mapala UIN ini juga sudah tujuh kali melakukan penelitian suku dan budaya, yang terbaru adalah perjalanan mereka dari suku Abuy Alor NTT.
“Destinasi kami kesana mencari data masalah ekonomi dan tradisi. Kalau mapala sendiri anggotanya dituntut untuk memiliki kemampuan memanjat tebing memang. Jadi adanya sarana ini di kampus sangat membantu saat berlatih memanjat,” tutup mahasiswa semester 8 jurusan Akuntansi ini. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :